Untuk itu Ryamizard berencana memantau langsung pertemuan trilateral berikutnya. "Bulan ini (Maret) saya ke Korea setelah saya pulang dari Inggris," kata dia.
Perundingan trilateral digelar lantaran transfer teknologi melibatkan perusahaan dirgantara AS, Lockheed Martin. Sejak Maret 2014 saat Korea Selatan memutuskan membeli 40 unit pesawat tempur siluman keluaran Lockheed, F-35 Lighting II, Negeri Ginseng telah berencana meminta bantuan Lockheed untuk mengembangkan KF-X.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun pemerintah AS di kemudian hari melarang Lockheed melakukan transfer teknologi inti jet tempur kepada Korea Selatan. Ini yang menjadi alasan AS, Korsel, dan Indonesia menggelar pertemuan trilateral.
Mantan Kepala Staf Angkatan Darat era Presiden Megawati Soekarnoputri itu berharap jet siluman generasi 4,5 itu nantinya bisa diproduksi di Indonesia. Namun untuk saat ini PT Dirgantara Indonesia masih belum siap.
Desain pesawat tempur KF-X/IF-X yang sedang dikembangkan oleh Korea Selatan dan Indonesia. (Dok. PT Dirgantara Indonesia) |
Fase kedua proyek KF-X/IF-X ialah pembuatan prototipe pesawat. Sebanyak 20 persen pembiayaan ditanggung pemerintah RI, yakni Rp18 triliun atau 1,65 triliun Won (US$1,3 miliar). Sementara 80 persen sisanya ditanggung pemerintah Korsel. Total dana yang dikeluarkan kedua negara untuk penggarapan fase kedua ini sebanyak 8,6 triliun Won.
“Dana yang disuntikkan Indonesia berasal dari alokasi APBN Kementerian Pertahanan. Sebesar 20 persen dari total kebutuhan, untuk tiap tahap,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan, Anne Kusmayati, kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
Menurut Ryamizard, pemerintah RI saat ini masih fokus menyelesaikan pembiayaan untuk fase pertama yang telah rampung. (agk)
Desain pesawat tempur KF-X/IF-X yang sedang dikembangkan oleh Korea Selatan dan Indonesia. (Dok. PT Dirgantara Indonesia)