"Iya benar, berdasarkan hasil pemeriksaan dan anggota yang lihat langsung itu Uighur," kata Rudy saat dihubungi CNNIndonesia.com dari Jakarta, siang ini.
Ketika dikonfirmasi lebih lanjut, Rudy mengaku belum dapat menjelaskan persoalan yang melibatkan warga asing tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keberadaan tujuh warga Uighur disebut telah terdeteksi di Poso. Empat di antaranya ditangkap di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, 11 September 2014.
Lihat juga:Warga Asing Tewas dalam Baku Tembak Poso |
Menurutnya, keberadaan sejumlah orang beretnis Uighur di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan jaringan teroris dalam negeri tapi juga Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).
Menurut penelusuran, perjalanan warga etnis Uighur ke Indonesia berawal dan Xinjiang, China. Dari sana, mereka menempuh jalur darat ke Thailand dan Malaysia, lalu menyebrang ke Indonesia secara ilegal lewat Riau.
Dari Riau, mereka melanjutkan perjalanan ke Jakarta, Bandung, dan kembali ke Jakarta.
Dari ibukota negara, mereka disebut terbang dengan maskapai komersial ke beberapa kota, seperti Surabaya dan Denpasar. Dari situ, warga etnis Uighur itu melanjutkan perjalanan ke Makassar sebelum akhirnya masuk ke Poso.
Di sisi lain, Anton menyebut, fenomena tersebut memperkuat dugaan polisi terhadap hubungan Santoso dan ISIS.
"Artinya ini bukan hanya jaringan nasional tapi juga internasional," ujarnya. "Kami masih menyelidiki apakah mereka turut membawa persenjataan untuk memperkuat Santoso."