"Operasi Tinombala itu operasi gabungan TNI-Polri untuk mengejar kelompok teroris pimpinan Santoso," kata Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah, Brigadir Jenderal Rudy Sufahriadi, Minggu (20/3).
Perburuan Santoso yang telah berlangsung sepanjang tahun 2015, hingga kini belum juga berakhir. Baru saja awal bulan ini, 10 Maret, Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Badrodin Haiti mengatakan memperpanjang Operasi Tinambola di Poso untuk memburu Santoso, pimpinan Mujahidin Indonesia Timur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Badrodin juga secara resmi meminta Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo untuk membantunya. Menurut Badrodin, tak masalah apakah polisi atau tentara yang dikerahkan dalam perburuan itu selama Santoso tertangkap.
“Kami mengantisipasi agar tidak ada lagi aksi terorisme,” ujar Badrodin.
“Saya akan pimpin langsung perburuan Santoso. Saya kejar Santoso di mana pun berada, dan memang dibutuhkan bantuan TNI. Presiden sudah bilang, operasi harus dilakukan gabungan (TNI-Polri),” kata Rudy.
Bantuan tentara diperlukan terutama karena kondisi geografis atau medan perburuan yang sulit, yakni hutan belantara.
Tinombala diharapkan dapat menjadi operasi pamungkas. Sayangnya musibah terjadi di tengah operasi ini. Helikopter yang jatuh karena dugaan cuaca buruk membuat 13 prajurit TNI AD gugur dalam tugas.