Menurut Prasetyo, saat ini penumpang lebih memilih taksi atau ojek yang bisa dipesan secara online melalui aplikasi di telepon genggamnya, karena dianggap lebih murah dan mudah.
"Sekarang kenapa orang meninggalkan taksi konvensional? Karena mereka melihat ada yang baru yang lebih murah, jadi tidak bisa disalahkan. (Jika mereka disalahkan), berarti yang menggunakan salah juga. Iya kan? Kalau kita lihat dari teori sebab akibat," ujar Prasetyo di Sasana Pradana Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Jakarta Selatan, Kamis (24/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini kan masyarakat yang menilai. Banyak dari mereka yang mengatakan lebih senang Grab, yang online itu. Karena apa? Lebih nyaman, lebih murah. Sekarang tentunya persuasif," katanya.
"Makanya sekarang mau ditertibkan. Mereka harus terdaftar, mereka harus punya izin, dan tentunya kewajiban pajak harus dipenuhi," ujarnya.
Prasetyo berharap dengan adanya pendatang baru di bidang transportasi ini, penggiat transportasi lama juga harus berusaha untuk memperbaiki diri. (bag)