Mulyadi menyatakan pemerintah Republik Indonesia perlu membangun pendekatan psikologi politik dalam menyelesaikan ancaman konflik di Papua, sebab pembangunan fisik saja tak cukup.
"Saya harus tegaskan, sekalipun pemerintah ganti Koteka dengan emas, ancaman separatis akan tetap ada kalau pendekatan pemerintah adalah Indonesia akui Papua bagian dari mereka, bukannya Papua akui Indonesia adalah mereka," ujar Mulyadi di Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lawatan ini telah direncanakan Luhut sejak beberapa waktu lalu untuk menghadang laju ekspansi Gerakan Pembebasan Papua, menyusul langkah organisasi itu meresmikan kantor di Wamena setelah sebelumnya membuka kantor di Vanuatu dan Solomon –negara-negara tetangga Fiji di kawasan Pasifik Selatan yang dihuni mayoritas ras Melanesia seperti Papua.
Benny yang kini tinggal di London, Inggris, pascakabur dari Penjara Abepura, Jayapura, pada 2002 itu juga menuntut kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia di Papua diusut tuntas dengan melibatkan misi pencari fakta beranggotakan perwakilan negara-negara Pasifik Selatan.
Sementara mengenai sikap pemerintah pusat terhadap Papua, Luhut menyatakan Presiden Jokowi bukan tipe orang yang suma mengumbar janji, termasuk kepada rakyat Papua. Luhut meyakinkan, Jokowi akan merealisasikan semua janjinya. (agk)