"Dia baru saja diangkat sebagai Mualim 1, pas di bawah Kapten kapal," ujar Handri Suwan, Ketua RT di lingkungan tempat tinggal Alvian, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Handri yang juga bekerja di sebuah perusahaan pelayaran menuturkan, komunikasi terakhirnya dengan Alvian ialah tiga bulan lalu. Kala itu Alvian mengatakan hendak kembali berlayar ke Kalimantan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Handri, sejak penyanderaan terjadi, belum ada Kepolisian atau pemerintah yang mendatangi kediaman Alvian.
Tetangga lainnya, Wati, prihatin atas musibah yang menimpa Alvian. Ia melihat Alvian sebagai sosok yang baik hati.
Wati makin sedih karena Alvian baru saja dikaruniai anak kedua. Ia berharap Alvian bisa kembali dalam keadaan sehat.
Rumah Alvian sendiri terlihat tertutup rapat. Salah satu penjaga rumah, Dedi, menyampaikan bahwa istri Alvin sedang pergi.
Wakil Komandan Pasukan Khusus Zambasulta, Mayor Jenderal Demy Tejares, seperti dikutip dari Inquirer, mengatakan Brahma 12 itu berlayar dekat Pulau Tambulian saat dua bersaudara anggota Abu Sayyaf, Nickson dan Brown Muktadil, naik ke kapal tersebut.
Nickson dan Brown Muktadil merupakan anggota brigade Abu Sayyaf pimpinan Alhabsy Misaya. Mereka kemudian menodongkan senjata kepada para ABK.
Kelompok Abu Sayyaf yang berbaiat kepada ISIS kerap melakukan penculikan, pengeboman, dan pembunuhan di wilayah selatan Filipina.
Kelompok itu meminta tebusan sekitar Rp15 miliar sebagai kompensasi pembebasan para anak buah kapal. Namun pemerintah RI keberatan memenuhi tuntutan itu. Saat ini pemilik kapal dan para penyandera masih berunding. (agk)