Dia mengaku tidak keberatan Suratmi, istri Siyono, mengembalikan uang pemberian Polri itu ke Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah. "Begini ya namanya kemanusiaan, kalau tidak mau tidak apa-apa."
Badrodin juga menegaskan uang itu bukan untuk membungkam keluarga Siyono. "Sogok mana maulah orang," ujarnya.
Seandainya terjadi lagi kejadian serupa terhadap terduga teroris lain, Badrodin tidak menjanjikan akan memberi perlakuan yang sama. Menurutnya, hal itu tergantung pada kebijakan satuan wilayah yang menangani kasus masing-masing.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengungkap pemberian uang itu di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta. Keluarga Siyono telah menunjuk PP Muhammadiyah untuk memberikan bantuan advokasi lantaran merasa masih berada dalam ancaman.
Dahnil menyatakan, dua bungkus uang pemberian oknum itu belum pernah dibuka oleh Suratmi lantaran dia masih dirundung ketakutan. PP Muhammadiyah untuk sementara tidak berniat membuka isi bungkusan tersebut.
"Kami tidak akan membukanya sebelum proses advokasi ini rampung. Hari ini kami hanya menunjukkannya kepada publik, bahwa ada pemberian berupa diduga uang kepada keluarga korban," kata Dahnil.
Polri menyebut Siyono sebagai panglima bagian investigasi Neo JI. Kelompok tersebut diklaim sebagai bentuk baru dari Jamaah Islamiyah yang mempunyai kekuatan persenjataan lengkap dan bertanggungjawab atas serangkaian aksi teror era 2000-an.
Dia tewas setelah baku hantam di dalam mobil dengan anggota polisi yang melepaskan borgolnya. Saat kejadian, polisi meminta sedang membawa Siyono untuk menunjukkan tempat penyimpanan senjata kelompok teroris. (sip)