Dua menara berwarna gading dengan ujung lancip mencuat dari balik bangunan-bangunan pemukiman Kampung Luar Batang, menjadi penanda arah menuju masjid.
Dengan menelusuri jalan Luar Batang, lambat laun, bangunan masjid yang didirikan Habib Husin bin Abubakar bin Abdullah Alaydrus pada 1756, menampakan diri.
Lihat juga:Rumah Mewah di Kampung Luar Batang |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang pria tampak lalu-lalang membawa jeriken air bersih sementara yang lainnya sibuk mengangkut kardus-kardus dengan kedua tangan. Di sudut-sudut jalan, tukang ojek siap mengantar masyarakat yang membutuhkan tumpangan keluar dari keramaian itu.
"Nasi! Nasi! Nasi!" kata dua orang ibu seketika diberi bungkusan oleh peziarah itu. Kemudian belasan orang di sana langsung menghampiri kedua pemuda berjaket hitam tersebut, meminta bagiannya.
"Mereka kadang ada nazar atau keinginan, ya tidak apa-apa. Kadang-kadang tidak izin ke kami dulu juga kami biarkan saja, selama itu kebaikan tidak pernah kami larang," kata Mansur.
Menurut Mansur, setiap usai salat Jumat, ada alumni salah satu sekolah Jakarta yang membagikan bungkusan nasi untuk jamaah.
Adapun pengurus masjid biasanya memilih menyantuni masyarakat kurang mampu dengan memberi beras. Pengurus juga menyediakan klinik dan ambulans gratis untuk warga sekitar, terutama yang tidak mampu.
Meski masjid itu sendiri tidak akan dibongkar, dia ingin jamaahnya bisa tetap tinggal di tanah yang sudah puluhan tahun ditempati itu.
Semestinya, kata dia, kawasan pemukiman itu dipercantik dan ditata, bukan dibongkar. Kebanyakan warga yang ditemui justru menolak berkomentar ketika ditanya soal wacana pembongkaran ini.
Sebagian di antaranya malah mengaku tidak tahu bagaimana kepastian nasibnya. "Saya gak tahu, setahu saya yang sudah pasti dibongkar yang di sana," kata Irwan, salah seorang warga RW 2, sambil menunjuk ke arah timur di mana pasar ikan berada.
"Saya dari lahir di sini, Ahok jangan main gusur saja," ujarnya. (yul)