Staf Khusus Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Firdaus Ali menyebut, penggunaan air tanah berlebih menjadi salah satu penyebab utama yang membuat Jakarta ambles. Jika konsumsi air tanah dibiarkan tidak terkendali, praktisi bioteknologi lingkungan itu punya prediksi tahun 2050 bibir pantai utara Jakarta akan berada di Monas.
Ancaman yang diramalkan oleh Firdaus berangkat dari data penurunan muka tanah di sejumlah titik Jakarta Utara yang tercatat mencapai hingga 18 sentimeter pertahun. Ketika muka tanah turun, pada saat yang bersamaan muka air laut naik hingga 6 milimeter pertahun.
Lihat juga:Pencurian Masif Air Tanah di DKI Jakarta |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pakar tata kota Yayat Supriatna mempertanyakan kematangan kajian tanggul laut. Dia khawatir optimisme dari semangat pembangunan tanggul tidak dibarengi dengan pertimbangan lain berkaitan dampak sosial, lingkungan, dan tata kota itu sendri.
Lihat juga:Pencurian Air Tanah di DKI Jakarta |
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama sudah bertandang ke dua negara yang kini membantu Indonesia dalam menggodok rancangan utama pembangunan tanggul. Dia menyimpulkan konsep tanggul pemecah ombak di Saemangeum tidak cocok diterapkan untuk tanggul Jakarta. Ahok, sapaan Basuki, menilai tanggul Rotterdam lebih punya banyak kemiripan fungsi dengan yang dibutuhkan Jakarta.
Lihat juga:Cerita Mengejar Target Pencatatan Air Tanah |
Peneliti air Fatchy Muhammad tidak sepakat tanggul laut jadi solusi menghadang rob. Alih-alih membendung air laut, pengisian ulang kembali air tanah dianggap lebih dapat diandalkan untuk mendesak kembali intrusi ke laut.
Menurut Fatchy, air hujan yang turun di Jakarta setiap tahunnya cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dua kali lipat penduduk yang ada di Jakarta. Sialnya, kata dia, air hujan itu tidak termanfaatkan karena buruknya sistem horizontal drainase yang membuat air hujan dengan cepat dibuang ke laut.
Lihat juga:Mengejar Waktu Ancaman Penurunan Tanah |
Dampak giant sea wall ke depannya justru malah akan memperparah banjir di Jakarta. |
Ketua Kelompok Keahlian Teknik Kelautan Intitut Teknologi Bandung Muslim Muim menanggapi rob sebagai fenoma alam biasa di mana muka air laut tinggi. Rob akan menjadi banjir karena terjadinya penurunan tanah. Namun, katanya, tidak semua daerah Jakarta mengalami penurunan, contohnya Tanjung Priuk.
"Dampak giant sea wall ke depannya justru malah akan memperparah banjir di Jakarta, merusak lingkungan laut Teluk Jakarta, mempercepat pendangkalan sungai, mengancam sektor perikanan lokal, dan menyebabkan permasalahan sosial," ujar Muslim. (gil/sip)