Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Bambang Dahono Adji mengatakan ke-14 badak tersebut terpencar di bagian hutan sebelah utara dan selatan Kutai Barat.
"Sebanyak 12 ditemukan di wilayah utara dan 2 lainnya di wilayah selatan," kata Bambang di Jakarta, Rabu (5/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk menyelamatkan satwa tersebut, Bambang mengatakan telah menbentuk Rhino Protection Unit (RPU) yang terdiri dari 7 orang. Mereka mewakili masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan pemerintah daerah (Badan Konservasi Sumber Daya Alam).
Pemerintah, ujarnya, juga akan menargetkan selesainya suaka Badak (sanctuary) seluas 200 hektar di wilayah Kutai Barat pada Mei tahun ini. Selama ini, pemerintah telah memiliki dua tempat suaka badak yakni di Ujung Kulon dan Way Kambas.
Sementara itu, Widodo S Ramono dari Yayasan Badak Indonesia (YABI) mengatakan tim RPU pada dasarnya bekerja untuk berpatroli di seluruh kawasan dan mempertanggungjawabkan hasil tersebut.
Tak hanya itu, ujarnya, tim juga akan mencatat data di lapangan dari hasil Patroli Tapak Badak untuk mengetahui pasti lokasi beradanya badak.
"Kami juga akan mencatat pelanggaran yang dilakukan masyarakat terhadap satwa dilindungi untuk kemudian dilaporkan ke aparat penegak hukum," kata Widodo.
Widodo menjelaskan di Kutai Barat masyarakatnya terbiasa melakukan penjeratan terhadap satwa dilindungi seperti badak.
"Menjerat badak menjadi bagian hidup di sana," kata Widodo.
Oleh karena itu, dia mengatakan kondisi badak sudah sangat terancam dan satu satunya jalan adalah menyelamatkannya. Adapun, Anwar Purwoto, Direktur WWF Sumatera-Kalimantan mengatakan proses penyelamatan badak tidak bisa dalam waktu singkat.
"Prosesnya lama, ada identifikasi jalur dulu, tidak serta merta lihat badak di kamera lalu ditangkap."
Anwar menjelaskan untuk metode penyelamatan yang digunakan tim RPU di Kutai adalah pit trap atau lubang jebakan, alih-alih bius. Hal itu disebabkan pit trap dinilai lebih aman daripada menggunakan bius yang belum tentu langsung membuat ambruk badak.
Lihat juga:Badak Sumatra, Jangan Sampai Punah |
Sebelumnya, seekor badak betina Sumatera di Kutai Barat, meninggal setelah mengalami koma pada Selasa (5/4) dini hari. Najaq, nama badak tersebut, diduga meninggal akibat luka infeksi pada kaki kirinya.
Kematian Najaq dinilai kehilangan besar oleh pemerintah dan LSM lingkungan hidup. Sebabnya, populasi badak Sumatera di Indonesia diperkirakan hanya mencapai 100 yang tersebar di Sumatera dan Kalimantan. (yul)