Upacara kenaikan pangkat yang dipimpin Badrodin tersebut digelar di Markas Besar Polri, Jakarta.
Kenaikan pangkat secara otomatis diberikan sesuai dengan jabatan baru yang diemban para jenderal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain Tito, Badrodin juga memberikan kenaikan pangkat kepada 19 jenderal lain. Dua di antaranya adalah Deputi Pemberantasan Badan Narkotika Nasional Arman Depari yang dilantik menjadi inspektur jenderal dan Kepala Detasemen Khusus 88 Antiteror Eddy Hartono yang diangkat menjadi brigadir jenderal.
Dengan tiga bintang di pundaknya, Tito bisa jadi turut meramaikan bursa calon kapolri pengganti Badrodin yang akan pensiun Juli nanti.
Meski demikian, Komisioner Kompolnas Muhammad Nasser mengatakan, syarat menjadi orang nomor satu Polri adalah senioritas sebagai perwira tinggi.
Nasser berkata, peraturan tertulis mengenai calon kapolri sudah jelas didokumentasikan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Polri. "Harus perwira tinggi senior, dalam kepangkatan dan jabatan," kata Nasser kepada CNNIndonesia.com.
Kompolnas yang berfungsi memberi masukan pada pemilihan calon Kapolri menyatakan belum ada pembahasan soal siapa sosok yang memenuhi syarat untuk meneruskan jabatan Badrodin.
Nasser mengatakan, “semua perwira tinggi senior di tubuh Polri berpeluang untuk jadi Kapolri.”
Bintang tiga paling senior adalah Wakapolri Komjen Budi Gunawan. Lulusan Akademi Kepolisian 1983 itu baru akan pensiun tahun 2017.
Sebelumnya bahkan Budi sudah resmi ditunjuk sebagai Kapolri oleh Presiden Joko Widodo. Namun langkah Budi terjegal karena dijerat kasus dugaan gratifikasi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, meski belakangan status tersangkanya dianulir lewat upaya praperadilan. (abm)