"Rapat-rapat simposium sering dilakukan di kantor Watimpres. Saya kan pembina FSAB," ujar Sidarto kepada CNNIndonesia.com, Kamis (14/4).
Sidarto menuturkan, simposium Tragedi 1965 muncul dari para anak dan kerabat korban pelanggaran HAM masa lalu yang bergabung dalam FSAB.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka antara lain Agus Widjojo dan Nani Nurrachman (anak Mayjen Sutoyo Siswomiharjo yang tewas pada Peristiwa 30 September 1965), Amelia Yani (putri Jenderal Ahmad Yani) dan Sarjono Kartosuwiryo (putra Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, pemimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia).
"Semuanya anak-anak korban pelanggaran HAM, baik paham kanan, kiri atau tengah. Kami berembuk lalu muncullah ide simposium itu," kata Sidarto.
Panitia juga berencana mengundang sejumlah purnawirawan TNI yang memegang posisi kunci saat sejumlah pelanggaran HAM masa lalu terjadi.
Dua nama yang disebut Sidarto adalah mantan Panglima ABRI sekaligus Wakil Presiden ke-6 Try Sutrisno dan mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, Kiki Syahnakri.
Namun, Sidarto berkata, para purnawirawan tersebut tidak akan datang sebagai representasi TNI. "Mereka tidak mewakili lembaga. Mereka memiliki persatuan dan akan datang atas nama pribadi," ucapnya.
Hingga berita ini diturunkan, persiapan Simposium Nasional Tragedi 1965 hampir selesai. Acara itu akan diadakan pada 17 dan 18 April mendatang di Hotel Arya Duta, Jakarta. "Tinggal finalisasi," ucap Sidarto.