Ketua Panitia Pengarah Simposium, Agus Widjojo, menyebut rekomendasi itu akan berbasis kajian serta temuan dari narasumber dan dokumen. Melalui rekomendasi itu, menurut Agus, pemerintah dapat mulai menyelesaikan Tragedi 1965
"Pengungkapan kebenaran itu adalah langkah pertama yang bisa membuka semua hal," kata Agus kepada CNNIndonesia.com, Kamis (14/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Simposium itu tidak berjalan ekslusif dan sendiri tapi bertumpu pada temuan yang sudah didapatkan lembaga atau peneliti lain," kata dia.
Meski demikian, Agus tidak dapat menjamin pemerintah akan menjalankan rekomendasi simposium. "Itu sepenuhnya tergantung pemerintah," tuturnya.
Menuai Kritik
Direktur Eksekutif Human Right Watch, Kenneth Roth, dalam kunjungannya ke Jakarta, kemarin, mengharapkan pengungkapan Tragedi 1965, tidak hanya berhenti pada penyelenggaraan simposium.
"Debat publik penting diadakan, kalau hanya para akademisi saja tidak sama," kata dia.
Kenneth juga menekankan urgensi keterbukaan dan kejujuran dalam proses rekonsiliasi antara korban dengan pemerintah. Ia berkata, rehabilitasi yang rencana masuk ke dalam materi simposium belum cukup sebagai bagian dari upaya rekonsiliasi.
"Perlu ada kebenaran. Kesempatan korban untuk bicara dan didengarkan suaranya," ujar dia.
"Sesi terakhir baru membicarakan upaya penyelesaian HAM. Saya tidak melihat ada kata-kata janji negara untuk menyelesaikan tragedi ini," kata Haris. (abm)