Di hadapan peserta Simposium, Suparno menceritakan kisah nahasnya. Semua kesialan itu dimulai pada 30 September 1965 –hari kelam bagi bangsa Indonesia.
Suparno berasal dari Batalyon Brawijaya. “Waktu itu saya ikut tugas di Jakarta untuk HUT ABRI. Posisi kesatuan saya, tanggal 30 September di Monas.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diboyongnya kesatuan Suparno ke Markas Kostrad ketika itu, kata dia, merupakan titah Jenderal Basuki Rahmat.
Sampai di rumah, ujar Suparno, ia ditodong dan disuruh angkat tangan. Suparno kemudian diminta membawa pakaian dalam dan dibawa pergi.
“Saya dibelokkan ke Denpom (Detasemen Polisi Militer) Madiun. Menjelang jam tujuh malam, saya diperiksa Komandan Denpom,” ujar Suparno.
Saat itu Suparno ditepuk dan diberi tahu, “Tenang, kamu tidak salah.”
Namun Suparno kemudian diinterogasi. “Ditanya apa yang saya ketahui. Ada 25 pertanyaan. Pertanyaan ke-25, dikatakan, ‘Kamu mau membunuh perwiramu. Katanya kamu mau mengganti kedudukan dia.’”
Suparno pun kaget. “Bayangkan, saya kopral dua, tamatan SD. Apa masuk akal?”
“Lima tahun ditahan, saya tidak pernah diadili. Saya salah apa? Padahal keberangkatan saya ke Jakarta 30 September atas perintah Pangkostrad,” ujar Suparno.
Kesedihan Suparno kian lengkap karena rumah tangganya jadi berantakan. “Istri saya diberikan ke orang, saya antar sendiri ke penghulu. Anak saya di sekolah dibilang ‘Anak PKI, anak PKI. Padahal saya ini tentara.”
Di akhir cerita, Suparno berkata, “Seorang prajurit tak akan menjalankan apapun tanpa perintah atasan.”