Operasi militer bukanlah opsi untuk menyelamatkan para sandera yang berprofesi sebagai anak buah kapal tersebut.
Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan kembali hal itu usai bertemu Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kalla mengatakan, pemerintah Indonesia setuju dengan rencana Filipina. Apalagi, menurutnya, Filipina masih kooperatif terkait rencana pembebasan para sandera
"Tebusan untuk 10 orang itu sedang difinalisasi oleh perusahaan. Ditunggu saja," kata Luhut di Universitas Indonesia, siang tadi.
Menurut Luhut, dari laporan sambungan telepon yang diterimanya kemarin, para sandera dalam keadaan sehat.
Sepuluh orang yang disandera merupakan awak kapal tongkang Anand 12 dan Brahma 12 yang membawa 7 ribu ton batu bara dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menuju Filipina.
Kapal itu bertolak pada 15 Maret dan kemudian dibajak Abu Sayyaf di perairan Sulu pada 27 Maret lalu.
15 April lalu, Abu Sayyaf disebut kembali menyandera empat WNI lain. Mereka adalah awak kapal tunda TB Henry dan tongkang Crista yang yang sedang dalam pelayaran dari Cebu, Filipina menuju Tarakan, Kalimantan Utara.
Pemerintah menyatakan, masih mengidentifikasi motif penyanderaan empat WNI tersebut, berkaitan dengan politik atau sekedar mendapatkan tebusan. (abm)