Dia dituding membunuh jenderal, bahkan memotong pelir sang jenderal. Kusnendar diinterogasi dan diminta mengaku, namun tak mau karena merasa tak bersalah.
Berikut kisah sembilan tahun Kusnendar menghuni Buru seperti ia ceritakan kepada wartawan CNNIndonesia.com, Prima Gumilang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sana, kami kerja paksa. Paling berat kerja rodi. Bikin bendungan, enggak dibayar. Bikin sawah berhektar-hektar.
Ada yang tugas cari sayuran atau sagu untuk menambah makanan. Jatah makan 400 gram sagu.
Saya cari sagu selama delapan bulan. Kalau pulang dari sawah, sagu mesti bawa empat tumang, dipikul untuk teman-teman di barak.
Selama di Buru, ada yang berusaha kabur. Katanya orang di Pulau Buru, akan dijemput kapal dari Laut Banda. Tapi saya enggak mau (mencoba kabur). Itu enggak masuk akal.
Di pinggir laut sudah dipasang kawat berduri dan ada petugas. Di barak juga dipagari kawat berduri. Keluar (Buru) juga mau apa? Di unit juga ada Tonwal (batalyon pengawal), jadi enggak mungkin (kabur).
Baca juga:Anak Cucu Pram 'Kebal' Cap Komunis |
Waktu di Pulau Buru, saya sering juga ketemu Pramoedya. Di Buru kan kami mengadakan kegiatan. Ada sepakbola, kesenian, main ketoprak. Tapi saya ke sawah, mencari sagu saja setiap hari. Kegiatan kesenian teman-teman lain.
Orang sana (asli Buru) diindoktrinasi oleh Tonwal sebelum kami datang. Tonwalnya orang Ambon, Maluku. Katanya, “Awas, penduduk sini enggak boleh bergaul dengan orang-orang yang datang dari Jawa (tahanan politik), sebab orang Jawa jahat-jahat dan suka makan orang.”
Jadi selama di Buru, kami berusaha cari cara bagaimana supaya bisa bergaul dengan penduduk, bagaimana bisa nebang sagu.
Kami cari makan sendiri. Masa panen padi, makanan begitu limpah ruah, tapi kami nyuri karena jatah tetap 400 gram. Jadi supaya kenyang, kami mencuri. Kalau panen, diwadahi dua karung, dibawa ke hutan, diumpetin. Kebetulan teman yang nyuri, ditaruh di gudang teman kami sendiri, bisa diatur.
Hubungan kami dengan warga sekitar akhirnya baik. Waktu kami mau pulang saja, mereka nangis, terharu. Kata mereka, “Kami bagaimana nanti kalau ditinggal?”
Biasanya kalau kami ada pentas kesenian, mereka kami undang, makan rame-rame, nyanyi. Saya tiap hari nyeberang kali, kasih sagu (ke warga setempat). Dia seneng banget bulgur.
Baca juga:'Lepas 37 Tahun, Aku Kembali ke Buru' |
Kami juga diskusi di sana. Bahasannya situasi politik saja. Kawan dari gereja, pendeta, datang bawa koran, kami baca. Kami nambah gula, roti, makanan lain, juga dari orang gereja.
Dalam situasi relatif agak damai, tim rehab memberikan kelonggaran untuk kirim surat ke keluarga, diberi warkat pos, suruh nulis sendiri. Yang bawa (warkat pos) ke sana ya pastor atau pendeta. Surat itu lalu dikumpulin dan dibawa oleh pendeta.
Mereka (pendeta) pulang ke Jawa, cari orang-orang yang dikirimi surat itu, ketemu.
Dalam surat yang saya tulis, saya bilang tolong kalau ada umur kirimlah barang bekas, kain, baju bekas, untuk saya. Ternyata dikirim. Ternyata keluarga masih ingat saya.
Sejak bebas, saya enggak pernah ke Pulau Buru lagi. Enggak ada duit. Biaya ke sana kan banyak.
Ada teman di Buru yang minta saya untuk main ke sana, ditawari pulang diongkosi. Tapi untuk pergi ke sana berapa duit.
Saya dulu sudah piknik (dibuang) ke Buru sembilan tahun enggak bayar, malah pemerintah yang bayar, haha.
Baca juga:'Ini Kami Masih di Buru' |