Pengumuman 21 pemenang Penghargaan Equator sesungguhnya telah dilakukan akhir tahun lalu di Paris, Perancis, saat digelar Konferensi Perubahan Iklim (COP21).
Masuknya tiga perwakilan Indonesia dalam daftar pemenang penghargaan menjadi kebanggaan tersendiri karena 18 komunitas lain yang memenangkan penghargaan ini berasal dari 16 negara berbeda. Artinya, rata-rata negara hanya diwakili oleh satu komunitas. Hanya Indonesia yang punya tiga wakil di daftar pemenang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kerja keras tiga komunitas Indonesia peraih Penghargaan Equator dalam menjaga keberlangsungan hidup masyarakat dan alam, mendapat apresiasi tinggi dari Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP).
Petrus Asuy, perwakilan dari Komunitas Adat Muara Tae, mengatakan meraih Penghargaan Equator sangat besar artinya karena bisa menjadi contoh bagi daerah lain dalam melindungi dan membangun kembali hutan-hutan yang di sekitar mereka.
Perjuangan berat
Petrus bercerita, sekitar 7 ribu hektare hutan di sekitar Desa Muara Tae telah lenyap karena digusur perusahaan sawit dan pertambangan. Akibatnya, terjadi kerusakan lingkungan yang semakin parah, termasuk hilangnya dua mata air utama dan tertutupnya sungai-sungai di sekitar desa.
"Kalau cari binatang buruan biasanya mudah, tapi sekarang susah karena binatang lari ke mana ada hutan," ujar Petrus di Kantor UNDP, Jakarta Pusat.
Kerugian-kerugian itulah yang lantas mendorong Petrus untuk berjuang menyelamatkan hutan adat dari penebangan hutan, pertambangan, dan perusahaan kayu ilegal. Hingga saat ini masyarakat Muara Tae masih berjuang untuk mendapat pengakuan hukum atas tanah adat mereka. Di tengah konflik tersebut, komunitas ini berhasil menanam kembali 700 hektare lahan hutan mereka.
Sementara aktivis lingkungan dari Komunitas Peduli Lingkungan Belitung (KPLB), Budi Setiawan, mengatakan bahwa dengan memperoleh Penghargaan Equator, artinya tanggung jawab yang ia pikul jadi makin besar.
Segera setelah kembali dari Perancis tahun lalu, kata Budi, dia bersama dua pemenang lainnya langsung mengunjungi sejumlah sekolah dan kampus untuk bicara soal isu perubahan iklim.
"Mereka sebagian besar tahu apa itu perubahan iklim, tapi ketika ditanya bagaimana tindakan yang tepat untuk mecegah perubahan iklim, mereka kebingungan. Jadi mereka harus diberitahu lagi soal kesadaran," ujar Budi.
Lewi Gala Paru, perwakilan dari Forum Masyarakat Adat Dataran Tinggi Borneo (Formadat), bertutur bahwa Penghargaan Equator menjadi pendorong agar ke depan komunitasnya bisa lebih kreatif dalam menjaga lingkungan. Selama ini Formadat berhasil memproduksi berbagai komoditas organik seperti beras, sayuran, buah-buahan, dan kopi.
"Semua produk kami tidak ada yang terkontaminasi pupuk atau kimia lainnya. Mereka subur karena tanahnya memang subur. Bahkan dalam mengatasi hama pun kami secara tradisional," ujar Lewi.
Lewi memaparkan, Formadat merupakan masyarakat adat lintas batas yang meliputi beberapa subkabupaten di Indonesia dan Malaysia, yaitu Sarawak (Bario, Ba'kelalan, dan Long Semadoh), Sabah (Long Pasia), dan Kalimantan Timur (Krayan dan Krayan Selatan).
Namun Lewi mengungkapkan rasa kecewanya karena hanya bisa memasarkan produk-produk organiknya ke Malaysia dan Brunei Darussalam, tidak Indonesia. Ia mengatakan, akses warga Krayan dan Krayan Selatan untuk menjual produknya lebih mudah ke kedua negara tetangga itu daripada ke negeri sendiri.
"Kami hanya bisa jual ke Malaysia dan Brunei karena bisa dijual langsung, distribusi menggunakan jalur darat. Sedangkan kalau mau jual ke dalam negeri, tidak ada akses jalur darat, hanya jalur udara yang biayanya mahal. Jadi keuntungan yang kami terima lebih sedikit dibanding kalau dijual ke Malaysia dan Brunei," kata dia. (agk)