"Saefullah tiba di lokasi pada Senin (2/5) sekitar pukul 22:30 WIB. Warga yang melihat kedatangannya merasa geram, karena sebelumnya Sekda Saefullah menyampaikan informasi yang berbeda dengan yang telah beredar selama ini," kata Sekretaris Masjid Luar Batang Mansur Amin, hari Selasa (3/5).
Mansur menceritakan, awal masalah terjadi saat pertemuan antara Saefullah, Pelaksana tugas Wali Kota Jakarta Utara Wahyudi, Camat Penjaringan Kholid, Lurah Penjaringan Suranta, dan pihak Rukun Warga 1 hingga 4 Kelurahan Penjaringan, sejak pukul 20.30 WIB sampai 22.00 WIB.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengatakan, dalam pertemuan itu, Saefullah menyampaikan penggusuran tetap akan dilakukan, pembangunan plaza di sekitar Masjid Luar Batang tetap akan dijalankan, dan akan ada pembangunan jalan-jalan besar sebagai kesatuan dari Kota Tua sampai Luar Batang.
"Hasil pertemuan pun tidak jelas dan warga merasa dibohongi oleh Pemprov DKI Jakarta," katanya.
Usai pertemuan berlangsung, kata Mansur, warga pun menolak keinginan Saefullah meninjau Kampung Luar Batang dan Masjid Luar Batang untuk memberikan bantuan uang sebesar Rp 1 miliar dan seragam bagi marbot masjid. Warga menyarankan agar Saefullah tidak datang lagi ke Luar Batang.
Namun, tanpa sepengetahuan warga, menurutnya, Saefullah datang ke Masjid Luar Batang sekitar pukul 22.30 WIB. Warga yang melihat langsung bereaksi dan berupaya mengusir Sekda Saefullah beserta rombongannya.
Menurutnya, pengurus masjid dan warga Luar Batang mengira langkah Sekda Saefullah tersebut adalah untuk memberikan alasan bagi Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menyudutkan warga dan mendatangkan pasukan ke Luar Batang. (bag)