Dalam penjelasannya, Ihsan menyangkal bahwa 14 pelaku perkosaan dan pembunuhan terhadap Yuyun melakukan perbuatannya hanya karena pengaruh minuman keras yang ditenggak mereka beberapa saat sebelum berbuat kejahatan. Alih-alih hanya minuman keras, ia berpendapat bahwa faktor utama pemicu kekerasan yang dilakukan adalah seringnya konsumsi hal yang memuat pornografi oleh para pelaku.
"Saya lihat kasus gang rape bisa terjadi lagi dalam waktu dekat, karena ini tidak random terjadi. Kalau pemberitaan menyebutkan major factor-nya adalah miras. Miras sebuah trigger, tapi bukan faktor utama," ujar Ihsan dalam sebuah acara diskusi di Jakarta Pusat, Sabtu (7/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam struktur otak kita. Kita punya pusat yang mengendalikan reward kesenangan, berupa seks, uang, makanan, dan lain-lain. Kalau itu diaktivasi, maka orang akan cari reward. Dopamin di tubuh kalau dirilis, (manusia) bisa senang. Ketika (seseorang) addict pornografi, itu tingkat dopamin banjir dan ketika dipaksa dengan video porno, maka kebanjiran," katanya.
Ihsan memaparkan, ada bagian otak yang terletak di belakang dahi yang berperan dominan dalam mengontrol hidup manusia. Ia mencontohkan, jika dalam keadaan lapar, maka tingkat aktivasi bagian otak tersebut akan menguat dan berbeda dengan orang yang dalam keadaan normal atau tidak lapar.
"Kalau orang yang kecanduan pornografi, ditambah konsumsi alkohol, dia tidak sedang mengontrol dirinya. Kemampuan self-control sudah hilang pada dirinya," katanya.
Ihsan juga berpendapat, penentuan kedewasaan seseorang dalam berpikir tidak bisa sepenuhnya dilihat dari usia orang tersebut, karena selalu ada perubahan gaya hidup dalam setiap pergantian era. Oleh karena itu, dia menilai perlu adanya kesamaan persepsi soal menentukan tingkat kedewasaan dan psikologis anak. (utd)