“Pelajaran soal Tragedi Mei 1998 ini memang harusnya jadi kurikulum nasional, sama seperti ketika kita belajar soal jatuhnya Kerajaan Singasari. Supaya tiap perpindahan kekuasaan tidak dihubungkan dengan pertumpahan darah,” ucap Djarot di TPU Pondok Rangon, Sabtu (14/5).
Pada Mei 1998, kerusuhan pecah di sejumlah daerah di Indonesia, khususnya Jakarta. Kerusuhan antara lain dipicu Tragedi Trisakti di mana empat mahasiswa Universitas Trisakti ditembak dalam demonstrasi 12 Mei 1998. Rangkaian peristiwa kala itu berujung pada kejatuhan Presiden Soeharto.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di TPU Pondok Rangon, ada sekitar 131 batu nisan tanpa nama. Mereka merupakan korban kerusuhan Mei 1998 yang dimakamkan secara massal karena tak lagi dikenali jasadnya.
"Kami akan bantu keluarga korban dan cek kondisinya seperti apa. Mereka ini sudah jadi korban kejahatan kemanusiaan, jangan sampai terulang," ujar Djarot.
Bantuan disampaikan setelah salah satu keluarga korban mengeluhkan kondisi makam anaknya yang tak terawat. Belum lagi biaya pajak makam mesti dibayarkan tiga tahun sekali. Kondisi batu nisan bertuliskan 'Korban Tragedi Mei 1998' di pemakaman pun mulai rusak.
Selain bantuan itu, Djarot juga akan mendata kondisi sosial ekonomi keluarga korban untuk nemetakan bantuan apa yang tepat bagi mereka.
"Apa bantuan itu cukup? Ya belum. Tapi mereka ini sudah kehilangan anak-anaknya. Mereka tidak boleh kehilangan harapan hidupnya," kata Djarot.