Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Bambang Dahono Adji mengatakan, kementeriannya meminta semua Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) mengevaluasi institusi konservasi satwa.
Merujuk data direktoratnya, ia berkata, tidak sedikit lembaga konservasi satwa harus dibenahi. "Kami harus mengantisipasi lembaga konservasi yang tidak berizin lalu membenahi sistem pengelolaan mereka," ujarnya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (16/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bertha menuturkan, penanganan rutin mencakup upaya preventif atau penanggulangan, seperti pemberian vaksin dan pemeriksaan sampel organ pada hewan.
"Ketika ada kasus insidental pada hewan, dokter yang berjaga harus cepat tanggap menangani," ucapnya.
Bertha memaparkan, koordinasi antara dokter hewan dengan keeper (penjaga hewan), sebagai pihak yang mengetahui secara langsung kondisi hewan jagaannya, mempengaruhi perawatan kesehatan satwa.
Lihat juga:Nasib Malang Satwa di KBS |
Merujuk sistem pengelolaan Gembira Loka, Bertha mengatakan, empat dokter hewan menangani sekitar 1500 satwa di kebun binatang yang berada di Kecamatan Kotagede itu.
Setiap hari, kata Bertha, satu dari empat dokter hewan itu wajib bertugas. Keempat dokter itu pun harus menguasai seluruh riwayat kesehatan satwa yang ada.
"Setiap dokter harus tahu pengobatan apa yang pernah diterapkan pada satwa," ujarnya.
Pekan lalu, gajah bernama Yani mati di Kebun Binatang Bandung, Jawa Barat. Gajah berusia 34 tahun itu kehilangan nyawa setelah selama sepekan tergeletak di kandangnya.
Kepala Balai Pengujian dan Penyidikan Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat, Sri Mujiarti Ningsih, menduga kualitas pakan yang buruk berefek negatif pada kesehatan Yani.
"Jadi radang paru-paru yang dialami oleh Yani ini kemungkinan dikarenakan manajemen pakan yang buruk. Harus ada perbaikan pakan atau makanan," ujarnya seperti dikutip Antara.
Lihat juga:Masa Depan Harimau Sumatera |
Berbagai permasalahan ini muncul menyusul sejumlah persoalan yang pernah muncul di kebun binatang lain, seperti Kebun Binatang Surabaya dan Kebun Binatang Ragunan, Jakarta. (abm)