Berbagai pesan seperti 'Masih Ingat Mei 98', 'Menolak Tunduk', 'Diskusi Jangan Main Hakim Sendiri', hingga 'Hapus Impunitas' disampaikan dalam rupa dompet, syal, dan tempat alat tulis. Harapannya, Presiden Joko Widodo segera merealisasikan janji penuntasan seluruh kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) masa lalu.
Yogya Plaza menjadi salah satu lokasi kerusuhan terparah pada 14 Mei 1998. Kala itu pusat perbelanjaan ini dijarah dan dibakar. Ratusan orang yang berada di dalamnya terperangkap dan terbakar hidup-hidup.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Puluhan keluarga korban pelanggaran HAM masa lalu sejak tahun 2007 selalu berdiri di depan Istana Merdeka setiap hari Kamis. Aksi yang dikenal dengan sebutan 'Kamisan' itu bertujuan untuk meminta penuntasan masalah hukum yang adil dari pemerintah.
"Setiap Kamis kami berdiri di depan Istana selama satu jam, mengapa Presiden tidak pernah melihat kami? Ini sudah kami lakukan dari rambut masih hitam sampai putih, dari gigi masih ada sampai ompong begini," kata Maria sambil meneteskan air mata.
Sedangkan Ameh, kakak dari Muhammad Ikwan dan Mulyani yang ikut menjadi korban tragedi kerusuhan di Yogya Plaza meminta pemerintah tidak lupa untuk menghadirkan keadilan bagi keluarga korban pelanggaran HAM masa lalu.
Dia berjanji akan terus menagih janji Presiden Jokowi untuk menyelesaikan seluruh pelanggaran HAM masa lalu.
"Semoga dalam waktu dekat perjuangan ini dapat berhasil," kata Ameh. (pit/pit)