Sumaryati tahun ini genap 70 tahun ini tidak bisa melepaskan dirinya dari tembakau. Konon, sehari tak melumuri giginya dengan tembakau, ia tak bisa bekerja dan tubuhnya begitu lemas. Kebiasaan itu bernama 'nginang', tak hanya melumuri gigi saja tapi air rembesan dari tembakau pun ia telan.
Bagaikan merokok, Wanita paruh baya yang masih aktif sebagai petani tembakau ini melakukan nginang setiap saat bahkan mulutnya akan terasa begitu kecut dan asam jika tak melakukannya. Tak urung, Nenek dari lima cucu ini lebih memilih tidak makan daripada harus berhenti nginang dalam sehari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kecanduan 'nginang' ia rasakan sejak umur 20 tahun. Dahulu, ia menggunakan tembakau untuk mengganti pasta gigi yang harganya cukup mahal. Tapi, walau sekarang pasta gigi gampang dibeli, Sumaryati berkeras tidak menggunakan pasta gigi namun memilih tembakau untuk giginya. Ia percaya bahwa tembakau dapat memperkuat dan menghilangkan sakit pada gigi.
Tapi, tak begitu dengan ketiga anaknya. Di rumahnya, hanya Sumaryati sendiri yang melakukan nginang. Ketiga anaknya mengaku pernah mencoba namun tidak senang karena rasanya yang pahit. Mereka lebih memilih menggunakan pasta gigi daripada nginang.
Sumaryati yang telah menjadi petani tembakau sejak umur 12 tahun merasa tembakau bagus untuk kesehatan. Ia berkaca dari ayahnya yang berumur 125 tahun dalam keadaan sehat walaupun masih merokok dan melinting tembakau. Bahkan, ia yang telah menjadi petani tembakau sejak usia 12 tahun ini juga merasakan tembakau begitu bermanfaat untuk stamina tubuhnya. (pit)