Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Tandya Tjahjana, menuturkan, Lisa melahirkan bayinya di wilayah resor Air Hitam, tepatnya di Desa Lubuk Kembang Bunga, TNTN. Bayi gajah itu berbobot 119 kilogram.
Tandya berkata, induk dan bayi gajah sumatera itu dalam kondisi kesehatan yang baik setelah proses melahirkan. Namun, masyarakat belum diizinkan melihat bayi gajah itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Tandya, kelahiran bayi gajah sumatera ini telah lama dinantikan pengelola TNTN dan BBKSDA Riau. Ia beralasan, populasi satwa tersebut mulai menurun dan langka.
"Apalagi gajah sumatera juga simbol Riau," ujarnya.
Lihat juga:Kematian Gajah Di Kebun Binatang Bandung |
"Kami berharap perhatian masyarakat kepada hewan ini semakin meningkat dan habitatnya pun dapat semakin meluas," kata dia.
Menurut catatan WWF, gajah sumatera telah masuk dalam daftar merah satwa terancam punah (critically endangered) yang dikeluarkan Lembaga Konservasi Dunia.
Pemerintah sebelumnya sudah memberikan perlindungan bagi gajah sumatera melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem.
WWF melaporkan, populasi gajah sumatera terus menurun karena pembalakan liar, penyusutan dan fragmentasi habitat serta pembunuhan dalam bentuk konflik dengan manusia maupun pemburuan liar.
Menurut WWF, pada tahun 2007 populasi gajah sumatera di Riau tercatat tinggal 210 ekor. Ketika itu, populasi satwa itu sempat turun hinigga 84 persen.
Sejak tahun 2000, masih berdasarkan laporan yang sama, ratusan gajah sumatera disebut mati di Riau karena berbagai pemburuan. Masyarakat setempat menanggap satwa tersebut sebagai hama. (abm)