Bayi Gajah Sumatera Lahir di Taman Nasional Tesso Nilo

Abraham Utama, CNN Indonesia | Kamis, 02/06/2016 08:52 WIB
Bayi Gajah Sumatera Lahir di Taman Nasional Tesso Nilo Kelahiran itu memunculkan harapan atas meningkatnya kepedulian terhadap publik populasi satwa endemik itu. Selama ini, gajah sumatera dianggap sebagai hama. (ANTARA FOTO/Reno Esnir)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seekor gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau, bernama Lisa melahirkan anak ketiganya, Rabu (1/6) kemarin. Peristiwa itu disebut dapat meningkatkan kepedulian publik terhadap satwa khas Asia tersebut.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Tandya Tjahjana, menuturkan, Lisa melahirkan bayinya di wilayah resor Air Hitam, tepatnya di Desa Lubuk Kembang Bunga, TNTN. Bayi gajah itu berbobot 119 kilogram.

Tandya berkata, induk dan bayi gajah sumatera itu dalam kondisi kesehatan yang baik setelah proses melahirkan. Namun, masyarakat belum diizinkan melihat bayi gajah itu.


Saat ini, kata Tandya, lembaganya belum memberikan nama bagi bayi gajah itu. "Saya rasa tidak harus hari itu juga langsung diberi nama," ucapnya di Pekanbaru, kemarin, seperti dilansir Antara.

Menurut Tandya, kelahiran bayi gajah sumatera ini telah lama dinantikan pengelola TNTN dan BBKSDA Riau. Ia beralasan, populasi satwa tersebut mulai menurun dan langka.

BBKSDA, kata Tandya, bertekad untuk terus menanamkan pehamaman terhadap masyarakat, bahwa gajah merupakan sumber kehidupan dan bukan musuh manusia.

"Apalagi gajah sumatera juga simbol Riau," ujarnya.
Sementara itu, Juru Bicara World Wild Fund Riau, Syamsidar, kelahiran bayi gajah sumatera itu dapat memberikan harapan baru di TNTN.

"Kami berharap perhatian masyarakat kepada hewan ini semakin meningkat dan habitatnya pun dapat semakin meluas," kata dia.

Menurut catatan WWF, gajah sumatera telah masuk dalam daftar merah satwa terancam punah (critically endangered) yang dikeluarkan Lembaga Konservasi Dunia.

Pemerintah sebelumnya sudah memberikan perlindungan bagi gajah sumatera melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem.

WWF melaporkan, populasi gajah sumatera terus menurun karena pembalakan liar, penyusutan dan fragmentasi habitat serta pembunuhan dalam bentuk konflik dengan manusia maupun pemburuan liar.
Tahun 2006, Menteri Kehutanan menetapkan Riau sebagai pusat konservasi gajah sumatera melalui Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 5 tahun 2006.

Menurut WWF, pada tahun 2007 populasi gajah sumatera di Riau tercatat tinggal 210 ekor. Ketika itu, populasi satwa itu sempat turun hinigga 84 persen.

Sejak tahun 2000, masih berdasarkan laporan yang sama, ratusan gajah sumatera disebut mati di Riau karena berbagai pemburuan. Masyarakat setempat menanggap satwa tersebut sebagai hama. (abm/abm)