"Dari pendataan yang kami lakukan, ada sekitar 20 rumah yang rusak 15 kondisinya rusak berat dan sisanya rusak ringan. Seluruh rumah tersebut berada tepat di bibir pantai," kata Ketua Rukun Nelayan Ujunggenteng, Asep Sudiana seperti diberitakan Antara di Sukabumi, Jumat (10/6).
Selain merusak puluhan rumah yang berada di tiga desa tersebut yakni Desa Pangubahan, Ujunggenteng dan cikangkung, bencana laut pasang dan robjuga menyebabkan beberapa perahu milik nelayan rusak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Asep, fenomena gelombang pasang biasanya akan kembali normal dalam kurun waktu hanya sepekan, tetapi kali ini sudah hampir dua pekan gelombang belum juga normal.
Pemerintah daerah setempat telah mengeluarkan peringatan dini sehubungan banjir rob yang melanda sejumlah pesisir pantai di selatan Kabupaten Lebak.
"Peristiwa bencana banjir rob itu tidak menimbulkan korban jiwa," kata Kepala Seksi Kedaruratan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, Madlias.
Peringatan dini tersebut guna mengurangi resiko kebencanaan agar tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan material yang cukup besar.
"Kami minta warga tetap mewaspadai cuaca buruk itu karena khawatir terjadi banjir rob susulan," kata Madlias.
Menurut dia, kemungkinan cuaca buruk tersebut akan berlangsung di pesisir selatan Kabupaten Lebak hingga beberapa hari kedepan berdasarkan laporan BMKG Provinsi Banten.
Diperkirakan ketinggian gelombang mencapai 4,5 meter dengan tiupan angin 20 knot atau 40 kilometer per jam.
Fenomena banjir rob dan gelombang pasang di sejumlah wilayah pesisir Indonesia diperkirakan masih berlangsung hingga pekan ketiga bulan Juni 2015. Kondisi tersebut tak terlepas dari gejala pasang laut dan angin munson timur yang terjadi hampir berbarengan.
Kepala Bidang Peringatan Dini Cuaca BMKG Kukuh Ribudiyanto menyatakan kondisi pasang tertinggi di perairan saat ini tercatat mulai mengalami penurunan di ketinggian 0,9 meter.
Namun dia memprediksi ketinggian permukaan air laut akan kembali mengalami peningkatan pada pertengahan bulan Juni, atau pekan ketiga bulan ramadan.
"Air pasang tertinggi diperkirakan terjadi pada tanggal 17-22 Juni dengan ketinggian mencapai 1,1-1,2 meter," ujar Kukuh saat dikonfirmasi.
Kukuh mengatakan prediksi air pasang itu belum dipadukan dengan gejala angin munson timur, atau angin timuran, yang belakangan menyebabkan gelombang tinggi dan banjir rob di sejumlah wilayah perairan Indonesia. (gil)