Kegiatan yang awalnya akan diadakan di Gereja Katolik Kristus Raja, Ungaran, itu mendapat penolakan dari sejumlah organisasi masyarakat, seperti Front Pembela Islam, Pemuda Muhammadiyah, dan Hizbut Tahrir Indonesia.
Acara buka puasa lintas iman tersebut digagas Yayasan Ciganjur. Penolakan membuat panitia acara memindahkan kegiatan itu ke Gereja Yakobus Zebedeus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Romo Aloysius Budi Purnomo berkata, panitia akhirnya memutuskan untuk menggelar acara buka puasa lintas iman di balai kelurahan.
"Puasa adalah ibadah umat muslim, tapi umat lain juga ikut merasakan makna ibadahnya. Sungguh indah jika keadaan ini terus berjalan harmonis di Indonesia," tutur Sinta.
Santap hidangan setelah adzan magrib diiringi tarian sufi dari Pesantren Al Islam, Tembalang, Semarang, pimpinan Kyai Budi Hardjono.
"Acaranya sangat hangat, sejuk, damai penuh kebersamaan. Justru inilah bukti konkret adanya toleransi kehidupan beragama," ujar Hendrar.
Kegiatan buka bersama lintas iman tersebut berlangsung dalam pengawalan personel kepolisian dan TNI. Beberapa anggota Banser Nahdlatul Ulama turut membantu pengamanan.
"Kami siap siaga membantu aparat mengamankan acara ini karena sejak awal ada reaksi penolakan," kata Ketua Banser NU Kota Semarang, Hasyim Azhari. (abm)