"Kami ingin buka proses ini seterbuka mungkin. Ini untuk memberi jawaban bagi yang masih meragukan," kata Juru Bicara Teman Ahok Amalia Ayuningtyas di Sekretariat Teman Ahok, Jakarta, Rabu (29/6).
Amalia berkata, pihaknya telah menyiapkan 100 orang relawan untuk melakukan verifikasi KTP secara manual. Dia menjelaskan, proses penghitungan akan melalui rekapitulasi, input data, dan scan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengatakan, terdapat empat tahap dalam verifikasi. Pertama memisahkan KTP PNS, Polri dan TNI, KTP mati dan yang mengumpulkan menggunakan SIM. Kedua, para pengumpul KTP dihubungi secara acak untuk menghindari nomor telepon palsu yang ada diformulir.
Senada, salah satu pendiri Teman Ahok Singgih Widyastono mengatakan, hitung manual dilakukan agar Ahok semakin mantap memilih jalur independen bersama Teman Ahok.
"Kami juga ingin buat Pak Ahok yakin bahwa satu juta KTP ini memang benar ada," kata Singgih.
Singgih menuturkan, verifikasi secara manual juga untuk membereskan apabila ada KTP ganda yang masuk saat pengumpulan. Sehingga setelah penghitungan selesai dia yakin tidak ada lagi KTP ganda.
"Karena sistem input kami baik, setelah diinput juga akan kami scan. Jadi nanti kalau ada NIK yang sama, dia akan terbung sendiri dalam sistem," ucapnya.
Pantauan CNNIndonesia.com peghitungan KTP dimulai pukul 11.30 WIB. Ada 10 meja tim rekapitulasi yang masing-masing berjumlah 9 orang. Sementara itu, tim input dan scan data yang berjumlah 10 orang duduk secara terpisah. Hingga berita ini diturunkan, 93 ribu KTP sudah berhasil dihitung.
Sebelumnya, orang-orang yang mengaku bekas relawan Teman Ahok mengaku berlaku curang dalam mengumpulkan KTP warga. Mereka juga mengaku dibayar dalam mengumpulkan KTP itu, dan bukan sebagai relawan.
Salah seorang bekas relawan bernama Paulus Romindo mengatakan, target yang dicanangkan membuat dirinya sebagai penanggung jawab berusaha mendapatkan KTP dengan berbagai cara.
Misalnya ia menyebutkan, KTP didapat dari program Kartu Indonesia Sejahtera (KKS) yang dicanangkan Presiden Joko Widodo, membeli dari kelurahan, hingga membeli dari gerai penjualan pulsa telepon seluler. Paulus juga menyatakan dia menerima Rp500 ribu setiap Minggu dan total mendapatkan Rp2 juta per bulan.
(obs)