Satelit militer, kata Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, berbeda dengan satelit-satelit lain yang sebelumnya diluncurkan Indonesia. Satelit ini bersifat rahasia, dan nantinya semua komunikasi Tentara Nasional Indonesia akan menggunakan satelit tersebut.
“(Satelit) enggak boleh campur-campur. Itu kan rahasia. Kalau satelit umum bisa digunakan untuk umum, perusahaan, dan macam-macam. Tapi di mana-mana, satelit militer itu harus rahasia,” kata Ryamizard di kantor Kementerian Pertahanan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat (1/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam memuluskan rencana pembelian satelit militer, Kemhan RI mengajukan anggaran dalam program pengadaan senilai US$849,3 juta. Anggaran itu telah disetujui oleh Komisi Pertahanan DPR, dengan pembiayaan berskema tahun jamak selama lima tahun.
Baca juga:Jet Tempur, Proyek Canggih Lintas Negara |
Jika telah diluncurkan pada 2019, satelit militer itu akan ditempatkan pada koordinat 123 Bujur Timur, sesuai jatah lokasi satelit bagi Indonesia oleh Uni Telekomunikasi Internasional, organisasi internasional yang membakukan dan mengatur radio internasional dan telekomunikasi.
Sebelumnya, koordinat itu ditempati satelit komunikasi Garuda-1 milik Asia Cellular Satellite buatan Lockheed Martin AS. Namun satelit Garuda-1 kini telah digeser dengan alasan ada sistemnya yang tidak beres.
Satelit militer umumnya digunakan untuk pengumpulan data intelijen, pengintaian, navigasi, dan komunikasi militer. (agk)