“Masalah terorisme itu tidak akan berhenti sampai orang terakhir, jadi terorisme itu akan terus berlangsung. Negara-negara di dunia harus menjadikan terorisme sebagai ancaman harga mati yang harus selalu dicarikan solusi teknis, sosial, ekonomi, dan politiknya,” ujar Sjafrie di kediamannya di Jakarta, Selasa (5/7).
Sjafrie mengaku, seminggu yang lalu dirinya mendapatkan pengetahuan mengenai terorisme secara detail dari pendidikan formal yang dijalaninya di NATO School Oberammergau.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Isu terorisme kembali memanas seiring terjadinya rangkaian ledakan bom di beberapa negara dengan penduduk mayoritas memeluk agama Islam dalam beberapa hari belakangan, seperti Turki, Bangladesh, Irak, Arab Saudi, dan terakhir Indonesia.
Mengutip Reuters, hampir 120 orang tewas dan 200 lainnya luka-luka dalam peristiwa itu. Bom meledak di pusat kesibukan masyarakat, yakni area perbelanjaan Karrada, sebuah daerah di mana banyak penganut Syiah bermukim. Menurut sumber kepolisian dan medis, masyarakat setempat tengah asyik menikmati puncak Ramadan dan berbelanja.
Tak berhenti di sana, tepat sehari setelahnya, terjadi tiga ledakan beruntun yang menarget para diplomat Amerika Serikat di Jeddah, penganut Islam Syiah di Qatif, dan sebuah markas keamanan di Masjid Nabawi di Kota Madinah, Arab Saudi. Semua aksi teror tersebut diklaim sebagai ulah kelompok militan ISIS sebagai dalang.
Serangan demi serangan tersebut seakan telah diatur waktunya untuk bertepatan dengan semakin dekatnya Idul Fitri, perayaan berakhirnya bulan puasa. (gir)