Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Hawa sejuk merayap setelah Jakarta diguyur hujan. Sayup-sayup suara takbir dari masjid, bersahutan.
"Lihat suasana takbiran aja Om, daripada di rumah sepi," kata Kecil saat ditemui di pinggir Jalan MT Haryono, Jakarta, tadi malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Malam itu, kedua putranya terlelap tidur diselimuti sarung, dalam sebuah gerobak kayu yang terparkir di sebelahnya.
Profesinya sebagai pemulung, membuat dia biasa bekerja hingga larut malam. Biasanya, dia mulai keluar mencari barang buruannya selepas tengah hari, hingga pukul 9 malam.
Namun malam itu, Kecil membawa serta kedua putranya saat mencari kardus dan botol. Alasannya, agar kedua putranya melihat keramaian malam takbir di Ibu Kota.
"Di rumah sepi, anak-anak kasihan. Saya juga bisa menangis kalau hanya di diam di rumah," ujar Kecil.
Dia yang baru saja menuntaskan pencarian di seputaran Pintu Air Kalimalang hingga Cawang itu, sesaat mengenang orangtuanya di Purwokerto, Jawa Tengah.
"Bagaimana enggak menangis? Pasti saya punya salah sama orang tua. Tapi justru saya enggak bisa minta maaf," tutur Kecil.
Di Purwokerto, Kecil lahir dari sebuah keluarga petani. Dia juga bungsu dari 10 bersaudara. Semua kakaknya, tinggal di sana.
Menurut Kecil, orangtuanya memiliki lahan padi seluas 1 hektare. Namun, hasil garapan lahan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan 10 anak-anaknya, termasuk urusan pendidikan.
"Semua kakak saya, putus sekolah. Hanya saya yang dipaksa sampai tamat sekolah dasar," ujar Kecil.
Saat itu pula, kata Kecil, ayahnya mengalami sakit berkepanjangan. Himpitan ekonomi dan sakit ayahnya, membuat Kecil putus sekolah. Dia memilih bekerja serabutan, mulai dari menggarap lahan tani milik orang lain atau bekerja di peternakan.
Lantas, dia tergiur cerita manis Ibu Kota dari teman-temannya. Sekitar tahun 1992, saat usia 16 tahun, dia memutuskan kabur untuk mengadu nasib di Jakarta.
"Kata teman, kalau di Jakarta, walaupun dapat sedikit tapi lebih banyak daripada di kampung," ucap Kecil.
Sebenarnya, kehidupan di Jakarta dia sebut tak jauh berbeda dibandingkan dengan di Purwokerto. Dia pun memulai kerja serabutan ketika baru menjejakkan kaki di Ibu Kota.
Kuli bangunan sampai menjadi pedagang rokok, pernah Kecil rasakan. Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk menjadi pemulung.
Hingga kini, hampir 20 tahun, Kecil telah mengarungi Ibu Kota. Pekerjaannya sebagai pemulung, sudah dia tekuni selama 10 tahun terakhir.
Dalam perjalanan hidupnya, Kecil menikahi gadis Betawi pada 2005. Namun, menurutnya, hal itu tak membuat peruntungannya berubah. Sang istri, ucapnya, juga bekerja sebagai pemulung.
"Ya penghasilan dicukupin aja buat anak-anak sekolah," ucap Kecil.
Namun, dia bersyukur meski menjadi pemulung, ada penghasilan tetap yang bisa dibawa ke rumah. Pemulung juga membuatnya lebih bebas, karena tidak terikat dengan orang.
Menjelang Lebaran, Jakarta seolah dihadapkan dengan fenomena pengemis dan pemulung yang duduk-duduk di pinggir jalan. Pemandangan itu dapat dengan mudah dijumpai di beberapa titik, seperti dekat Stasiun Manggarai, Jatinegara, Kampung Melayu, Cawang, Terminal Blok M hingga kawasan elit Kemang. Kecil adalah bagian dari fenonema tersebut.
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama sebelumnya mengatakan akan menindak manusia gerobak dan pengemis, usai Lebaran. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana memulangkan pengemis yang kembali ke Jakarta, atau bahkan mengancam akan menerapkan sanksi pidana.
Dan pada Lebaran kali ini, Kecil beserta keluarganya merayakan gempita hari kemenangan itu dengan sederhana. Tidak ada ketupat maupun rendang.
Untuk itu pula, Kecil memilih duduk di pinggir jalan saat malam takbir Lebaran. Dia tak menampik, salah satu tujuannya adalah mendapat rezeki dari lalu lalang kendaraan yang melintas.
"Kalau ada yang kasih alhamdulillah, kalau tidak ya kami tidak minta juga," kata Kecil.
Harapannya, dia dapat mengumpulkan uang lebih untuk pulang ke kampung halaman. Sederhana, seperti tahun-tahun sebelumnya. (asa)