"Lebih taktis lagi tadi kami mendapat laporan bahwa medan tempat mereka disandera (menyebabkan) sangat sulit dilakukan pembebasan, khususnya pelolosannya,” ujarnya seperti dikutip dari ANTARA, Jumat (15/7) malam.
Alasan utama pemerintah Indonesia mengesampingkan opsi operasi militer lantaran konstitusi Filipina yang melarang intervensi militer negara lain di wilayahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun pada pekan lalu tentara Filipina dikabarkan menewaskan sekitar 40 pemberontak Abu Sayyaf dalam serangan di kepulauan selatan Filipina, Luhut mengatakan bahwa operasi tersebut tidak mengganggu proses komunikasi dan negosiasi yang sedang berjalan.
Kapal-kapal tunda dan tongkang yang proporsinya 15 persen dari keseluruhan kapal pengangkut batu bara Indonesia ke Filipina, dianggap lebih rentan dibajak.
Karena itu, sesuai panduan dari Organisasi Maritim Internasional (IMO), pemerintah mempertimbangkan penempatan personel bersenjata (armed guards) untuk mengawal kapal-kapal niaga tersebut.
"Yang jelas, 15 persen kapal (tongkang) yang membawa batubara ke Filipina itu akan dikawal oleh personel bersenjata, saya tidak menyebutkan itu TNI atau siapa. Nanti kita cari lagi formatnya," pungkas Luhut. (bir)