Tito berkata, Suhardi menguasai ilmu dan teori seputar teror.
“Dia memiliki beberapa kelebihan. Dia cerdas secara intelektual. Sejak dari Akademi Kepolisian, Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, Sekolah Staf dan Pimpinan Polri dan Lemhanas, beliau selalu top two atau top three,” ujarnya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (20/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Jadi dia tidak diragukan secara akademik dalam penanganan terorisme. Saya percaya diri dia mampu memimpin BNPT,” tuturnya.
Ketika menjabat sebagai Kepala Bareskrim Polri pada akhir 2013 hingga awal 2015, kata Tito, Suhardi kerap berhubungan langsung dengan Detasemen Khusus 88 Antiteror.
Kepada Suhardi, Tito mengaku memberikan sejumlah arahan khusus. Dalam waktu dekat, Suhardi harus membangun soliditas internal BNPT.
Suhardi juga diperintahkannya untuk segera mempelajari jaringan kelompok teror internasional.
“Jaringan teror sekarang bersifat global. Jadi nanti dia memang perlu banyak bersafari ke luar negeri untuk membangun hubungan dengan counterpart internasional,” ucapnya.
Rabu pagi tadi, Presiden Joko Widodo melantik Suhardi menjadi Kepala BNPT di Istana Kepresidenan. Perwira tinggi lulusan Akpol tahun 1985 itu sebelumnya duduk sebagai Sekretaris Utama Lemhanas. (rel)