Basri adalah mantan narapidana kasus terorisme pada 2007. Satu tahun sebelum masa tahanannya habis, pria pemilik nama samaran Bagong atau Bang Ayas ini melarikan diri dari Lembaga Pemasyarakatan Ampana, Sulawesi Tengah.
Sedangkan Ali Kalora adalah sosok radikal senior di kalangan gerilyawan di Poso. Selain bergabung bersama MIT, pria benama asli Ali Ahmad ini juga memimpin sebuah tim yang beranggotakan 16 orang di salah satu pegunungan Poso.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Deretan Aksi Teror Santoso |
"Mereka akan kita pantau bersama ada beberapa kelompok lagi," ucapnya.
Dia berkata, Basri merupakan sosok yang tepat untuk melanjutkan kepemimpinan Santoso di MIT. Kedekatan Basri dengan Abu Sayyaf disebut dapat meningkatkan intensitas hubungan MIT dengan ISIS.
"Ali Kalora belum tentu bisa melakukan itu," ucap Al Chaidar saat berbincang dengan CNNIndonesia.com kemarin.
Dia juga menyampaikan, sepak terjang Basri dalam aksi terorisme tidak perlu diragukan. Basri pernah terlibat dalam aksi terorisme di Nusa Tenggara Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Solo, dan Bekasi.
Lihat juga:Santoso Didor Bagian Perut dan Punggung |
Basri, demikian Fauzi, juga dinilai tidak punya pemahaman agama yang baik dan karisma untuk menjadi seorang pemimpin kelompok teroris.
"Saya akrab dengan Basri, saya lama bergaul dengannya dulu di penjara. Basri yang saya kenal bukan sosok leader yang baik, tapi kalau untuk jadi eksekutor tepat," ujarnya. (rel)