"Dibandingkan dengan anggaran pertahanan, sudah sekitar lima sampai sepuluh persen. Itu bisa ditingkatkan lagi, tapi ada pekerjaan rumah bahwa industri pertahanan harus direvitalisasi dan direstrukturisasi," ujar Direktur Utama PT Pindad, Silmy Karim, di Kantor Presiden, Jakarta, kemarin.
Silmy menuturkan data tersebut usai rapat terbatas dengan sejumlah menteri dan petinggi perusahaan penyedia senjata dalam negeri. Rapat itu dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Silmy mengatakan, pada tahun 2015 perusahaannya meningkatkan kontrak kerja sama penjualan senjata hingga 79 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun itu pula, kata dia, produktivitas PT Pindad naik hingga 122 persen.
"Tidak sampai di situ saja. Ada pengembangan teknologi yang masih dalam proses penguasaan. Presiden tadi bilang, pilih sektor mana yang yang perlu dibangkitkan lagi," ucapnya.
PT Pindad merupakan perusahaan pelat merah. BUMN ini mencanangkan tahun 2023 sebagai tenggat waktu mereka menjadi produsen peralatan pertahanan dan keamanan terkemuka di Asia.
Kini PT Pindad sedang bersiap mengakusisi sebuah perusahaan industri pertahanan luar negeri. Namun Silmy masih enggan mengemukakan korporasi tersebut.
Lihat juga:Pindad Luncurkan Empat Senjata Baru |