Jenazah Santoso kemudian dibawa ke rumah ibu kandungnya untuk dimandikan dan dikafani.
Di lorong jalan menuju rumah ibu Santoso, terbentang spanduk berukuran tiga kali satu meter yang bertuliskan "Selamat Datang, Syuhada Poso, Santoso alias Abu Wardah".
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Alhamdulilah, Santoso mati syahid," kata kakak ipar Santoso, Pono, di Poso Pesisir, Sulawesi Tengah, Sabtu (23/7).
Kehadiran para simpatisan, dan keluarga Santoso, serta warga sekitar menimbulkan kemacetan selama dua jam di sepanjang jalan dari rumah ibu Santoso menuju pemakaman.
Menurut seorang warga yang hadir, Santoso merupakan pahlawan.
"Santoso seorang pahlawan karena mati menegakkan agamanya dan sudah membalas sakit hati saudara-saudaranya ketika konflik Poso yang lalu," kata warga.
Dalam proses pemakaman, tidak ada pengamanan aparat dari TNI dan Polri yang berseragam.
Hal itu disebabkan karena keluarga Santoso meminta aparat untuk tidak ada di lokasi guna menghindari kemungkinan adanya gesekan antara aparat dan para simpatisan Santoso.
Proses pemakaman pun berlangsung aman dan kondusif.
Santoso tewas saat terjadi baku tembak dengan Satgas Tinombala di Pegunungan Tambaranan, Poso, Senin (18/7), sekitar pukul 17.00 WITA.
Dua orang dari kelompok MIT tewas tertembak, yaitu Santoso dan anak buahnya bernaman Mukhtar alias Kahar. Pada kejadian itu, polisi juga menyita barang bukti berupa senapan jenis M16.
Selain itu, kelompok-kelompok teroris lain di Indonesia kerap mengirimkan anggotanya untuk berlatih bersama Santoso. Salah satu tokoh jaringan nasional yang terlibat di sini adalah Daeng Koro. Pria yang kemudian menjadi petinggi kelompok teror itu tewas dalam baku tembak 2015 lalu.
Selain itu, kelompok Bima juga mengirim anggotanya dan beberapa di antaranya masih menempel kelompok Poso hingga saat ini.
Selain dua kelompok tersebut, ada juga jaringan Abu Roban dan Al Qaeda Indonesia yang diyakini terlibat kegiatan itu.
Belakangan kelompok Santoso juga menyatakan berbaiat pada Negara Islam Irak dan Suriah alias ISIS. Tak hanya itu, mereka juga berani mengancam akan menyerang Istana dan Polda Metro Jaya.
Istri Santoso Ditangkap
Pagi ini, Tim Satuan Tugas Tinombala berhasil menangkap istri Santoso, Jumiatun Muslimayatun alias Delima. Delima ditangkap saat sedang berjalan kaki di tengah hutan belantara di Pegunungan Tambarana, Poso.
"(Ditangkap) sendiri, di daerah Tambarana, sedang jalan kaki aja kepergok, dari tim patroli yang menemukan," kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Boy Rafli Amar kepada Detik.com, Sabtu (23/7).
Tidak ada kontak senjata saat penangkapan istri kedua Santoso itu. Saat ditemukan Tim Batalion 303 Rider Kostrad, yang menjadi bagian dari Satgas Tinombala pukul 9.00 Wita, Delima tidak bersenjata.
Dalam pengakapan itu, tim menyita satu buah tas yang dibawa Delima. Namun, Boy belum bisa menjelaskan apa saja isi tas itu.
"Ada tasnya diamankan, lagi dibawa, lagi dicek dulu," jelasnya.
Kini, masih tersisa 18 pengikut Santoso yang tersebar di pegunungan di daerah Poso. Tim Satgas Tinombala terus bergerak untuk sebisa mungkin menangkap pengikut Santoso dalam keadaan hidup.