Masalah tersebut menimbulkan pertanyaan tentang pengawasan oleh pemerintah, terutama Kementerian Kesehatan. Kementerian itu mengalokasikan Rp1,2 triliun untuk pembelian vaksin untuk sekitar 23 juta anak Indonesia pada 2016. Sekitar 4 juta orang dari jumlah itu, adalah bayi berusia di bawah lima tahun.
Adalah PT Bio Farma (Persero) yang memasok vaksin untuk program imunisasi pada anak. BUMN itu menyatakan pihaknya memiliki distributor resmi dan melakukan audit berkala untuk memantau jalur distribusi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepolisian menyatakan praktik itu diduga dilakukan sejak 13 tahun lalu. Ketika Kementerian Kesehatan membuka nama-nama rumah sakit yang diduga menggunakan vaksin palsu, amarah pun muncul dari masyarakat.
Sebagian orang tua menyatakan anak mereka diduga punya dampak setelah memakai vaksin yang diduga palsu. Namun, pihak dokter belum bisa memastikan hal itu. Polisi menetapkan 23 tersangka dengan tiga di antaranya adalah dokter, dan sebagian berkas mereka telah dilimpahkan ke kejaksaan.
CNNIndonesia.com akan mengulas persoalan tersebut dengan menghadirkan Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan Jane Soepardi, Sekjen IDI Adib Khumaidi, dan Direktur Pemasaran PT Bio Farma (Persero) Mahendra Suhardono. Ketiganya akan membahas persoalan itu di acara Lunch@Newsroom.
Dalam acara yang dipandu Pemimpin Redaksi CNNIndonesia.com Yusuf Arifin, ketiganya diharapkan mampu memberikan solusi jangka menengah dan jangka mendatang agar masalah itu tak terulang.
Acara live streaming Lunch@Newsroom dengan tema Dikepung Vaksin Palsu akan diadakan pada Selasa, 26 Juli 2016 jam 13:00 WIB. Buat Anda yang punya pertanyaan seputar masalah vaksin palsu, dapat menyampaikan pada kolom tanya jawab di bawah ini. (asa)