Kuasa Hukum Zulfiqar bersama pemerintah Pakistan mengerahkan segala upaya untuk membatalkan eksekusi itu. Pemerintah Pakistan melakukan lobi-lobi diplomatik kepada pemerintah Indonesia.
Sementara tim kuasa hukum Zulfiqar mengajukan grasi ke Pengadilan Negeri Tangerang dan Sekretariat Negara, Kamis (27/7) siang tadi atau hanya beberapa jam sebelum pelaksanaan eksekusi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Zulfiqar merupakan satu dari 14 terpidana mati yang rencananya bakal dieksekusi Jumat (28/7) dinihari. Namun, hal itu batal dilaksanakan karena alasan yang belum diketahui secara pasti.
Sementara empat terpidana lain yaitu Freddy Budiman (Indonesia), Gajetan Acena Seck Osmane (Senegal), Michael Titus Igweh (Nigeria), dan Humprey Ejike (Nigeria) sudah dieksekusi oleh regu penembak dii Nusakambangan. Eksekusi sempat sedikit tertunda karena hujan lebat yang mengguyur Nusakambangan Jumat dinihari.
Jaksa Agung Muda Pidana Umum Kejaksaan Agung Noor Rachmad mengatakan, pemerintah tetap akan mengeksekusi sisa terpidana yang belum dieksekusi. "Sisanya akan dilakukan bertahap," ujar Noor Rachmad dalam keterangan resmi di Dermaga Wijaya Pura, Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (29/7) sekitar pukul 02.00 WIB.
Di sisi lain, Saut Rajagukguk berharap pembatalan eksekusi terhadap kliennya dilakukan berdasarkan pertimbangan keadilan, bukan semata karena penundaan seperti yang dijelaskan Jaksa Agung Mauda Pidana Umum Agung Noor Rachmad.
"Saya belum tahu alasannya. Mudah-mudahan karena alasan yang benar-benar menunjukkan penegakan hukum yang berkeadilan," kata Saut kepada CNNIndonesia. (wis)