"Saat Bapak Wiranto menjadi pimpinan, siapa yang akan menjembatani? Sedangkan pemimpinnya sendiri merupakan orang yang diduga terlibat dalam hal tersebut," kata Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Natalius Pigai saat dihubungi oleh CNNIndonesia.com, Jumat (29/7).
Natalius pun menambahkan, tindakan Jokowi tersebut dianggap tidak menghormati dan tidak menghargai Komnas HAM, serta merupakan sindiran bagi para aktivis HAM.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wiranto juga, menurut laporan khusus 92 halaman yang dikeluarkan Serious Crimes Unit di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa, gagal mencegah kejahatan HAM di Timor Leste.
"Kehadiran Wiranto dalam kabinet hanya akan mempertebal impunitas pelanggaran HAM karena sulit bagi Wiranto memprakarsai penuntasan pelanggaran HAM berat, sementara dirinya diduga terkait dengan peristiwa- peristiwa itu. Bahkan dugaan keterlibatannya cukup jelas dalam laporan-laporan yang disusun Komnas HAM," kata Hendardi.
Hendardi pun pesimis atas masa depan penuntasan pelanggaran HAM yang adil di bawah kepemimpinan Wiranto dan Joko Widodo. Janji-janji Jokowi yang terang benderang tertuang dalam Nawacita akan menemui jalan buntu.
"Sekarang rakyat pasti memahami bahwa isu HAM hanya menjadi komoditas politik Jokowi untuk menundukkan lawan politik saat berkontes dalam Pilpres 2014 dan akan berulang pada Pilpres 2019," katanya.
“KontraS protes keras atas terpilihnya Wiranto, Panglima ABRI di masa Orde Baru. Ia berada di deret depan pelanggar HAM berat, dan harus bertanggung jawab atas sejumlah praktik pelanggaran HAM berat,” ujar Haris Azhar. (rel)