"Tujuh orang sudah kami amankan," ujar Kepala Bidang Humas Polda Sumatera Utara, Komisaris Besar Rina Sari Ginting, kepada CNNIndonesia.com, melalui sambungan telepon.
Rina menuturkan, tujuh orang tersebut merupakan bagian dari massa yang secara bersama-sama membakar dan merusak enam vihara dan kelenteng. Akibat perbuatan itu, peralatan sembahyang yang berada di setiap rumah ibadah itu hangus terbakar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Alat sembahyang mudah terbakar sehingga api tidak lama menyala. Yang terbakar bukan bangunan tapi peralatan sembahyang. Tidak ada rumah ibadah yang terbakar habis," tuturnya.
Pengurus dan umat di masjid tersebut tetap melanjutkan ibadah mereka hingga selesai. Rina berkata, pengelola masjid itu kemudian mendatangi rumah Erliana.
Menghindari konflik, kepala lingkungan lantas membawa Erliana dan suaminya serta pengurus masjid ke Polsek Tanjung Balai Selatan.
"Di sana dilakukan pertemuan dengan ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) setempat dan tokoh masyarakat," kata Rina.
Niat tersebut tidak terlaksana. RIna berkata, massa akhirnya bergerak ke sejumlah wihara dan klenteng untuk melakukan aksi mereka.
Dihubungi terpisah, Camat Tanjung Balai Selatan, Pahala Zulfikar, mengatakan kejadian sensitif bernuansa SARA itu merupakan yang pertama kali terjadi sejak reformasi.
“Baru kali ini terjadi lagi kerusuhan pasca 1998. Tadinya warga rukun, namun gara-gara masalah kecil [jadi timbul kerusuhan],” lanjut Zulfikar.