Beberapa peneliti Southest Asian Studies memperkirakan sebanyak 500 keturunan Yahudi pernah menetap di Surabaya. Jumlah itu terus menurun seiring penindasan Jepang yang disponsori Jerman, di bawah Partai Nazi.
Kisah naik dan turun kehidupan komunitas itu ditulis kembali oleh seorang keturunan Yahudi yang lahir di Surabaya tahun 1946. Ia adalah Eli Dwek. Eli menuliskan kronik kehidupan keluarganya di Indonesia dalam karya berjudul The Demise of the Jewish Community in Surabaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eli berkata, pada abad ke-19, Surabaya merupakan tempat yang ideal bagi imigran Yahudi. Tidak seperti di daerah koloni Inggris, komunitas Yahudi dapat hidup dengan normal di Surabaya yang berada di bawah kekuasaan Belanda.
“Selama bertahun-tahun, orangtua saya dan kolega mereka menikmati saat-saat menjadi bagian dari komunitas Yahudi di Surabaya,” kata dia lagi.
Lihat juga:Potret Eksistensi Yahudi di Bumi Pertiwi |
Eli mengatakan, di sekolah itu ia adalah satu-satunya keturunan Yahudi. Di sana, ia mempelajari alkitab dan membaca perjanjian lama dan baru versi Kristen Protestan.
Ketika itu, keluarga Dwek menetap di Jalan Kapuas. Di rumah itu, orangtuanya mempekerjakan seorang tukang masak, tukang kebun, dua pekerja rumah tangga dan seorang pengemudi.
“Kami sangat menikmati hidup. Saya mengayuh sepeda ke sekolah dan bermain dengan tetangga. Di akhir pekan kami berlibur ke Tretes sebagai tamu Charlie Mussry, si pemilik vila,” ucap Eli.
Tretes merupakan daerah wisata pegunungan yang kini berada di Kecamatan Prigen, Pasuruan. Kawasan yang persis di bawah kaki pegunungan Arjuno-Welirang ini berjarak sekitar 60 kilometer dari pusat Surabaya.
Anak-anak kuturunan Belanda di Tretes pada dekade 1930-an. (Dok. Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturenvia Wikimedia (CC BY-SA 3.0)) |
Pada masa itu, komunitas Yahudi tersebut tidak memiliki rabi atau pemuka agama yang dapat memimpin peribadatan. Gabriel yang memiliki garis keturunan rabi pun mengambil tugas itu. Belakangan, kata Eli, Gabriel pergi ke Singapura dan mengajak seorang rabi berlatar belakang Baghdadi bernama Ezra Meir untuk ikut ke Surabaya.
Kehidupan komunitas itu pun, menurut Eli, terasa lengap. Mereka dapat menikmati makanan kosher atau halal versi Yahudi pada perayaan tertentu seperti saat paskah, hari suci (yom kippur) dan tahun baru versi penanggalanYahudi.
Pangan kosher merupakan kendala bagi pemeluk Yudasime di Indonesia pada era kekinian. Kepada CNNIndonesia.com, Elisheva Wiriaatmadja mengaku ia dan komunitasnya yang bernaung di bawah Yayasan Eits Chaim Indonesia harus mengimpor makanan dan minuman kosher dari Singapura.
“Untuk menjalankan ritual, kami butuh anggur yang kosher. Kami harus beli di Singapura dan itu mahal,” ucapnya saat ditemui Juni lalu.
Secara pribadi pun, Elisheva harus mengubah gaya hidupnya karena ketiadaan badan penyedia bahan pangan kosher. “Di Indonesia belum ada makanan kosher, secara part time saya harus vegetarian,” tuturnya.
Perpisahan dengan Indonesia
Kenyamanan komunitas Yahudi di Surabaya, menurut Eli, berakhir ketika Israel dengan, Inggris dan Perancis menyerang Mesir pada tahun 1956. Perebutan Terusan Suez yang dikenal sebagai Perang Sinai itu membuat kehidupan komunitas imigran Yahudi itu terusik.
“Ayah saya harus menutup toko selama Perang Sinai untuk keselamatan pribadinya dan ketakutan atas vandalisme,” ucapnya.
Keberadaan komunitas Yahudi di Indonesia mendekati titik akhir ketika Presiden Soekarno mengeluarkan kebijakan nasionalisasi aset asing dan pengambilalihan Irian Jaya.
“Di sekolahku, sebagian besar guru dan murid telah meninggalkan Indonesia. Itu memaksa kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan menggabungkan sejumlah kelas dalam satu ruang,” tuturnya.
Lihat juga:Kronik Kehidupan Yahudi di Indonesia |
Agustus 1958, keluarga Dwek meninggalkan Indonesia menuju Israel dalam gelombang kepulangan dan pengungsian warga non-Indonesia keluar negeri. Sementara itu, sebagian lain dari komunitas itu berimigrasi ke Los Angeles, Amerika Serikat.
Di Israel, Gabriel kembali membuka toko optik. Tahun 1973, Eli bertemu dengan Florence Judah, putri seorang bekas komunitas Yahudi di Surabaya. Dua tahun kemudian mereka menikah di Los Angeles, dalam perayaan dan reuni dengan kerabat mereka yang lari dari Surabaya dua puluh tahun sebelumnya.
Keluarga Mussry
Berbeda dengan sebagian besar komunitas Yahudi yang memilih meninggalkan Indonesia, keluarga Charles Mussry memilih tetap tinggal di Surabaya. Charles meninggal dan dimakamkan di kompleks pemakaman Kembang Kuning. Pada batu nisannya yang beraksara Ibrani, tertulis Charles lahir pada 9 Oktober 1919 dan wafat pada 23 Agustus 1971.
Pemakaman kembang kuning berisi jenazah warga asing yang menjadi tewas di berbagai kamp interniran di Jawa Timur. Para prajurit angkatan bersenjata pemerintah Hindia Belanda yang kehilangan nyawa pada Pertempuran Laut Jawa pada Februari 1942 juga dimakamkan di kompleks itu.
Kepada Jeffery Hadler, peneliti Studi Asia Tenggara dari Universitas Berkeley, Amerika Serikat, putra Charles, David Mussry, menyebut keluarganya mendapatkan identitas sebagai warga negara Indonesia di akhir dekade 1950-an.
Hadler dalam penelitiannya yang berjudul Translations of Antisemitsm: Jews, The Chinese and Violence in Colonial and Post-Colonial Indonesia menulis, David menuliskan Hebrani dalam kolom agama pada kartu tanda penduduknya.
“Pada masa perpanjangan kartu itu pada tahun 1998, ia dipaksa memilih satu dari lima agama resmi pemerintah untuk mengisi kolom agama,” tulis Hadler. David saat itu memilih Hindu.
Lihat juga:Yahudi dalam Bingkai Kebhinekaan Indonesia |
Perkumpulan itu didirikan Izak Ellias Binome Ehrenoreis Rechte Grunfeld dan Emma Mizrahie pada 31 Juli 1923 di Surabaya. Perkumpulan itu sempat mendirikan satu sinagoge di Jalan Bubutan Surabaya.
Dokumen MA itu menyebut, karena jumlah umat yang semakin banyak, perkumpulan tersebut akhirnya membeli sebidang tanah milik Nyonya Ada Henriette Burch Kruseman, di Jalan Kayun, tempat di mana sinagoge Beit Hashem pernah berdiri.
Melalui serangkaian peristiwa hukum, hak milik atas tanah dan bangunan rumah ibadah itu berpindah tangan. Tahun 2013, sinagoge yang berstatus sebagai bagunan warisan cagar budaya itu diratakan dengan tanah.
Lihat juga:Yahudi dalam Bingkai Kebhinekaan Indonesia |
Anak-anak kuturunan Belanda di Tretes pada dekade 1930-an. (Dok. Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturenvia Wikimedia (CC BY-SA 3.0))