Perdebatan dengan Slamet dimulai saat Otto menanyakan dosis racun sianida yang masuk ke dalam tubuh Mirna. Dari keterangan ahli toksikologi disebutkan bahwa dosis racun sianida yang mematikan adalah 2,5 miligram. Sementara dosis yang masuk ke tubuh Mirna adalah 0,2 miligram.
"Harusnya enggak mati, kan?" tanya Otto.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berarti enggak bisa, kan?" tanya Otto lagi.
Otto berpendapat, seharusnya dokter tak hanya memeriksa bagian lambung Mirna.
"Anda memangnya periksa jantung Mirna? Untuk autopsi harusnya semua diperiksa. Sebab bisa jadi korban meninggal karena kerusakan jantung," tanya Otto.
"Saya tidak periksa jantungnya. Lagipula, yang kami lakukan bukan autopsi, hanya pengambilan sampel lambung. Tapi jantung mungkin juga mengalami kerusakan karena efek sianida," tutur Slamet.
"Berarti Anda tidak periksa jantungnya kan?" cecar Otto.
"Tidak," jawab Slamet yakin.
"Lalu bagaimana Anda bisa bilang matinya karena racun?" kata Otto.
"Karena paling mudah pemeriksaan racun adalah dari lambung. Kasus keracunan sianida juga menyerang hampir seluruh organ tubuh. Kami periksa jantung korban yang juga mengalami kelainan karena kekurangan oksigen," jelas Slamet.
"Tapi Anda tidak periksa jantungnya," Otto tetap berkukuh dengan pernyataannya.
"Bapak tidak mengerti cara kerja dokter. Saya sudah jelaskan, tapi bapak masih terus tanya," balas Slamet yang disambut tepuk tangan peserta persidangan.
Lihat juga:Dakwaan Terhadap Jessica Belum Terbukti |
"Racun itu pasti dari luar. Tidak mungkin dimasukkan dari tubuh. Dari CCTV juga terlihat korban minum sesuatu," tandas Slamet.