Indikasinya bisa dilihat dari kesamaan karakter dalam sejumlah aksi teror di negara-negara Asia Tenggara, beberapa waktu lalu dengan aksi teror kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).
"Terorisme sekarang ini kemungkinan koneksi regionalnya sudah terbentuk, terutama dengan kelompok pendukung ISIS," kata Tito saat ditemui di kantor Kemko Polhukam, Jakarta Pusat, Rabu (3/8).
Lihat juga:Malaysia Gagalkan Ancaman Bom dari ISIS |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aksi teror tak hanya dilakukan dengan cara pengeboman. Di Filipina, aksi perompakan oleh kelompok Abu Sayyaf masih berlangsung hingga kini. Sepuluh warga negara Indonesia masih disandera di Filipina Selatan. Ada pula warga negara asing yang ikut disandera kelompok Abu Sayyaf yang memiliki keterkaitan dengan jaringan ISIS.
"Saya sendiri nanti akan menjadi keynote speech dalam satu acara dinner, bagaimana saya menjelaskan terorisme sekarang ini," tutur Tito. (wis/yul)