Menurut JK, masalah penyanderaan dapat segera diselesaikan dengan bergantinya kepemimpinan baru Presiden Rodrigo Duterte.
"Kita semua tahu Presiden (Rodrigo) Duterte itu tegas, jadi kami minta mereka melepaskan sandera," kata JK, Jumat, (5/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sama saja jika ada penyanderaan di sini, ya pemerintah kita selesaikan," kata JK.
Hingga kini sepuluh WNI masih disandera di Filipina oleh kelompok Abu Sayyaf. Tujuh di antaranya merupakan anak buah kapal tugboat Charles 001 dan Robby 152.
Mereka disandera di Laut Sulu, Filipina Selatan, saat sedang menempuh perjalanan membawa batu bara dari Tagoloan Cagayan, Mindanao, menuju Samarinda. Sementara tiga WNI lainnya disandera pada waktu yang berbeda, sejak 9 Juli lalu.
Sementara itu Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo telah memperoleh informasi bahwa Presiden Filipina Rodrigo Duterte akan menyambangi markas pemimpin Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF) Nur Misuari di Sulu, Filipina Selatan.
Mereka akan membahas pembebasan warga negara Indonesia yang disandera kelompok militan Abu Sayyaf.
Gatot menilai, pertemuan keduanya merupakan bukti keseriusan Pemerintah Filipina dalam upaya pembebasan sandera WNI.
"Dapat informasi dalam waktu beberapa hari ini Presiden Duterte akan ke Sulu, ke tempat kampnya Nur Misuari. Berarti pemerintah Filipina benar-benar akan berusaha membebaskan sandera," kata Gatot saat ditemui di kantor Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (4/8).
(meg)