"Saya ingin agar kajiannya lebih komprehensif, dan buat saya syaratnya satu saja, sekolah harus menyenangkan, jangan sampai mereka (anak didik) tertekan atau stres," kata Ganjar di Semarang, Senin (8/8) seperti dilaporkan Antara.
Menurut Ganjar, sistem belajar di sekolah seperti full day school itu mendekati sistem sekolah lima hari dalam sepekan dengan harapan pada akhir pekan bisa berinteraksi antaranggota keluarga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau di desa akan muncul permasalahan mengenai transportasi, kalau di perkotaan sangat bisa diterapkan, sudah saya evaluasi soalnya," ujarnya.
"Dengan sistem 'full day school' ini secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi 'liar' di luar sekolah ketika orang tua mereka masih belum pulang dari kerja," katanya di Malang, Minggu (7/8).
Menurut Muhadjir, kalau anak-anak tetap berada di sekolah, mereka bisa menyelesaikan tugas-tugas sekolah dan mengaji sampai dijemput orang tuanya usai jam kerja.
"Dan, anak-anak bisa pulang bersama-sama orang tua mereka, sehingga ketika berada di rumah, mereka tetap dalam pengawasan, khususnya orang tua," katanya.
Menyinggung penerapan full day school bagi pendidikan dasar tersebut, mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu mengatakan saat ini masih terus dilakukan sosialisasi di sekolah-sekolah, mulai di pusat hingga di daerah.
"Nantinya memang harus ada payung hukumnya, yakni peraturan menteri, tapi untuk saat ini masih sosialisasi terlebih dahulu secara intensif," ujarnya.
Sementara itu, pengamat pendidikan Arief Rachman menyatakan, menyatakan setuju atas gagasan sekolah sepanjang hari (full day school). Gagasan itu dianggap membawa sejumlah nilai positif, dengan catatan manajemen harus baik dengan indikator keberhasilan yang jelas.
Sejumlah nilai positif yang dimaksud Arief yaitu siswa betah di sekolah karena merasa mendapat pelajaran bermutu; guru memiliki banyak waktu untuk melakukan observasi perilaku, spiritual, intelektual, emosional, jasmani, dan sosial siswa; fasilitas tidak mubazir.
“Selain itu, anak juga punya banyak waktu untuk bergaul dengan teman sebaya. Perlu diketahui, kepribadian anak itu muncul bukan hanya dari pelajaran sekolah, tetapi juga dari pergaulan sosial mereka,” ujar Arief ketika dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (8/8).