Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem KLHK, Tachrir Fathoni, dalam aksi jalan santai parade konservasi alam pada Minggu (14/8) di kawasan car free day Sudirman, Jakarta. Acara diselenggarakan dalam rangka peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2016.
Parade diikuti sekitar 1.000 peserta yang terdiri dari praktisi konservasi, LSM pemerhati lingkungan dan satwa, lembaga penelitian, dan masyarakat. Acara dimeriahkan dengan parade ikon 25 satwa endemik dan langka yang menjadi perhatian KLHK.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tachrir menargetkan jajarannya untuk meningkatkan populasi 25 satwa endemik yang menjadi prioritas KLHK untuk dilestarikan. Dalam lima tahun, KLHK menargetkan terjadi peningkatan populasi sebesar 10 persen.
"Peningkatan populasi satwa tersebut kita fokuskan dengan penangkaran baik secara in situ [di dalam area konservasi] maupun ex situ [di luar area konservasi]," kata Tachrir.
KLHK telah menetapkan 551 unit kawasan konservasi yang terdiri dari 52 unit Taman Nasional, 123 unit Taman Wisata Alam, 73 Unit Suaka Margasatwa, 219 unit Cagar Alam, 11 unit Taman Buru, serta 47 unit kawasan konservasi. Hal tersebut dilakukan sebagai komitmen pemerintah mengantisipasi ancaman keanekaragaman hayati Indonesia.
Selain itu, tutur Tachrir, KLHK terus melakukan pembentukan standarisasi pengelolaan lembaga konservasi (LK) khususnya konservasi satwa. Standarisasi pengelolaan LK tersebut akan menjadi pedoman pengelolaan dan opersional praktisi-praktisi konservasi baik yang dibawah Pemerintah Daerah maupun swasta.
"Kami bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam daerah-daerah menyusun standar kebun binatang. Selama ini belum ada standar yang sama," kata Tachrir.