Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Brigadir Jenderal Agus Rianto, Jumat (19/8), bahan kimia tersebut berupa kristal putih seberat 150 gram. Bahan ini ditemukan dalam penggeledahan 16 Agustus kemarin.
"Setelah kami lakukan pemeriksaan secara ilmiah, ternyata itu sejenis Triaseton Triperoksida Peroksiaseton (TATP)," kata Agus. "Ini adalah salah satu bahan peledak primer dengan kekuatan yang cukup besar."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini terus kami lakukan pengembangan terhadap DA dan jaringannya," kata Agus.
Dwiatmoko ditangkap pada Senin (15/8) sekitar pukul 13.30 di sebuah warnet di Kecamatan Punggur, Lampung Tengah. Menurut saksi mata, penangkapan berlangsung cepat oleh polisi bersenjata laras panjang.
Kedua di Indonesia
Berdasarkan catatan CNNIndonesia.com, penemuan bahan kimia TATP ini adalah yang kedua kalinya di Indonesia. Penemuan pertama terjadi pada ancaman teror di Mal Alam Sutera, 2015.
Saat itu, Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian yang masih menjabat sebagai Kepala Polda Metro Jaya mengatakan baru pertama kali bom TATP ditemukan.
Tito mengatan, dalam aksi terorisme di dunia, ledakan dengan menggunakan bahan peledak jenis TATP pernah dua kali terjadi. Kasus pertama dilakukan oleh Richard Reid, warga Inggris yang dijuluki shoe bomber (pembom sepatu).
Tahun 2001, Richard Reid mencoba meledakkan sebuah pesawat yang terbang dari Paris ke Amerika Serikat dengan menggunakan bahan peledak jenis TATP yang dimasukkan ke dalam sepatunya.
Dalam ledakan tersebut, bahan peledak TATP yang digunakan seberat 4,5 kilogram. Daya ledak bom tersebut mampu merusak bangunan dan menyebabkan banyak korban jiwa dan luka.
Tito berkata, bahan peledak TATP sangat sulit dideteksi keberadaannya. Bahkan, ujar Tito, bahan TATP bisa lolos dalam pemeriksaan dengan menggunakan sinar X. (wis/agk)