Kapal pompong atau kapal kayu bermesin itu tengah menempuh rute dari Tanjungpinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Riau di Pulau Bintan, ke Pulau Penyengat yang berada di lepas pantai barat Tanjungpinang.
“Pompong terbalik dihantam gelombang karena cuaca buruk. Sampai saat ini sudah dibawa 10 jenazah korban ke RSUD Tanjungpinang,” ujar Sapril, warga Tanjungpinang yang bekerja di bidang pariwisata, seperti dilansir Antara, Minggu (21/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para korban dievakuasi dengan bantuan masyarakat dan kapal pompong lain yang ada di perairan sekitar.
Enam korban tewas lain sedang diidentifikasi, sedangkan lima korban yang belum jelas nasibnya masih terus dicari.
Nakhoda kapal nahas itu, Said yang merupakan warga Pulau Penyengat, mengatakan kapal membawa 17 penumpang saat berangkat dari Tanjungpinang.
Namun Said belum bisa banyak memberikan keterangan karena dalam kondisi trauma.
Kepala Badan SAR Nasional Kepulauan Riau, Abdul Hamid, mengatakan informasi mengenai jumlah korban dan penumpang masih simpang siur.
Hingga kini proses pencarian masih berlanjut di tengah cuaca hujan dan berawan. Sementara warga makin banyak berdatangan ke RSUD Tanjungpinang untuk mengetahui kondisi kerabat dan sahabat mereka yang menjadi korban.
Kapal pompong ialah sarana angkutan umum Tanjungpinang-Pulau Penyengat. Kapal ini juga dipakai untuk angkutan wisatawan ke pulau-pulau bersejarah di Kepulauan Riau yang memiliki jejak peninggalan Kesultanan Lingga. (agk)