Berdasarkan hasil survei Lembaga Manilka Research and Consulting menunjukan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Ahok dan wakilnya Djarot Syaiful Hidayat pada Agustus 2016 sebesar 60,7 persen. Angka ini turun 6,8 persen dari hasil survei Juni sebesar 67,5 persen.
"Kami melihat bahwa sampai sejauh ini suara masyarakat Jakarta menilai kepemimpinan Ahok-Djarot masih dalam batas bisa diterima," kata Ace, Minggu (21/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, di sisi lain, politikus PDI Perjuangan Masinton Pasaribu mengaku tidak terkejut dengan hasil survei yang dirilis Manilka. Menurutnya, penurunan elektabilitas dan kinerja Ahok sesuai dengan suara yang dijaring dari kader partainya di tingkat masyarakat.
"Kalau kami dari PDIP tidak terkejut dengan hasil survei ini. Mungkin yang lain akan kejang-kejang," ujar Masinton.
Meski tak mau menyebut siapa pihak yang akan merasa kejang-kejang tersebut, Masinton menilai tingkat elektabilitas Ahok akan semakin menurun jelang Pilkada 2017.
Berdasarkan hasil survei, tren penurunan elektabilitas Ahok mulai terasa sejak mendeklarasikan diri untuk maju melalui jalur partai politik pada Pilkada 2017.
"Beberapa survei menunjukan tren turun, sepertinya akan antiklimaks. Klimaksnya saat mendeklarasi maju melalui jalur politik, semakin menurun," ucapnya.
Elektabilitas Ahok pada Agustus berdasarkan hasil survei Manilka sebesar 43,6 persen atau turun dari bulan Juni sebesar 49,3 persen. Meski demikian Ahok masih unggul dari beberapa nama calon pesaingnya.
Ahok yang kini sudah didukung tiga partai politik yakni Golkar, Hanura dan NasDem, tampak masih menunggu PDI Perjuangan sebagai kendaraan politiknya di Pilkada DKI Jakarta 2017.
Namun hingga kini, PDI Perjuangan belum mengeluarkan keputusan meski sudah ada sinyal dukungan ke Ahok. Hal ini dikarenakan internal PDI Perjuangan masih terbelah terhadap dukungan ini. (gen)