Hal itu diutarakan oleh Tjahjo di depan Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian, Kamis (25/8). Menyoal ratusan e-KTP aspal tersebut, Tjahjo merujuk pada kasus yang pernah ditangani Kepolisian, beberapa waktu lalu.
"Saya pernah dapat (laporan) dari staf Pak Kapolri, satu orang yang bagian bobol bank itu bisa punya 159 e-KTP asli tapi palsu," ujarnya di Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibat keterbatasan SDM itu banyak masalah dalam proses perekaman dan pembaruan data masyarakat. "Mohon dimaafkan SDM kami. Mungkin di Jakarta cepat tapi di pelosok-pelosok daerah belum optimal," kata Tjahjo.
Menteri juga mengungkapkan masih ada sekitar 20 juta warga dewasa belum merekam datanya. Di Jakarta sendiri ada puluhan ribu warga yang belum terekam.
Kementerian memberikan tenggat hingga akhir September agar Dukcapil bisa merekam data puluhan juta warga itu.
"Walaupun tidak tiap hari melayani masyarakat. Karena ada yang meninggal, ada masuk dewasa, ada pindah, ada status bujangan jadi menikah, itu kan perlu ganti e-KTP," ujar Tjahjo.
Lihat juga:Warga Menginap Demi Membuat e-KTP |
"Jangan daerah minta seribu terus ditumpuk saja karena tidak mau proaktif. Kan repot. Setidak-tidaknya warga merekam saja datanya terlebih dulu. Jika memang blanko belum tersedia, maka akan diberikan KTP sementara," ujar Tjahjo. (wis/obs)