"Meranti prinsipnya situasi sudah kondusif. Cuma saya menyesalkan peristiwa ini terjadi. Seharusnya tidak perlu terjadi," kata Tito di Markas Besar Polri, Jakarta, Jumat (26/8).
Tito menceritakan, demonstrasi itu adalah buntut peristiwa pembunuhan polisi yang dipicu persoalan asmara. Tersangka berinisial A tewas dalam penanganan polisi yang menangkapnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tito sendiri belum bisa memastikan apakah memang ada perlawanan dari tersangka sehingga petugas harus melumpuhkannya.
Dalam aksi demo itu masyarakat beramai-ramai mendatangi Markas Polres Meranti. Keadaan tak terkendali dan berujung kericuhan yang memakan satu korban jiwa di pihak penduduk.
Lihat juga:Kapolri: Konflik Agama Paling Berbahaya |
Kapolri Jenderal Tito telah memerintahkan Kepala Kepolisian Daerah Riau Brigadir Jenderal Suprianto untuk mengusut rangkaian peristiwa ini. Ia juga menugaskan asisten Kapolri bidang Operasional Inspektur Jenderal Unggung Cahyono dan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Inspektur Jenderal Muhammad Iriawan pergi ke Riau untuk mencari tahu kejadian yang sebenarnya.
"Anggota ini sedang kami periksa dan saya tegas kepada Kapolda Riau," kata Tito. "Kalau ini seandainya betul ada perlawanan dan hasil visum menunjukkan itu, saksi-saksi menunjukkan itu, dijelaskan kepada publik."
Tito menyatakan tidak akan segan menindak anggotanya yang terbukti melakukan pelanggaran. "Anggota yang bersangkutan diproses hukum baik secara internal maupun secara proses pidana."
Lihat juga:Penangkapan Provokator Tanjungbalai |